My Mystery
Aku
terkadang benar-benar tak mengerti jalan pikiran Reva, dia gadis
baik. Banyak sebenarnya yang sangat menarik darinya. Tapi entah
mengapa tak banyak anak yang mau berteman dengannya. Bukannya aku tak
benar-benar tahu mengapa Reva tak memilki banyak teman. Karena aku
saksi kejadian itu. Hal itu terjadi pada awal musim pertama kami.
Hanya karena tingkah senior kami yang tak bisa menahan perasaan dan
sulit memahami bahasa manusia itu.
Aku
sebenarnya sudah mulai melupakan kejadian itu. Tapi, saat aku sedang
sendiri dan memikirkan Reva, tanpa sengaja ingatan itu sering muncul.
Membuat aku kesal, mengingat kebencianku pada seniorku itu dan banyak
lagi kejadian buruk yang menimpa Reva setelah kejadian itu dan
membuat aku geram. Perlakuan aneh dan canggung yang menjadi biasa
saja bagi Reva kini, karena menjadi kebiasaan. Dijahili, dihina,
digunjing sana-sini, sangat biasa bagi Reva. Untungnya dia anak yang
tidak terlalu menampakkan kesedihannya dan tidak terlalu mempedulikan
hal-hal semacam itu. Dan kejadian itu memupuk Reva yang kuat dan
ceria seperti sekarang. Revaku yang aku sayangi.
Siang
ini aku sebenarnya berniat menyatakan perasaanku pada Reva. Perasaan
yang aku simpan selama hampir 3 musim sekolahku. Aku selalu
dianggapnya sahabat. Meskipun aku menikmati anggapan itu. Tapi
terkadang keinginan untuk memiliki Reva dengan status yang lain dan
lebih mendalam sering kali muncul. Seperti malam lusa, saat aku ingat
dia maminta untuk dibuatkan lagu untuk resital musim ini. Aku memang
tak bingung mencari inspirasi mengenai lirik lagu-laguku yang
kebanyakan bertemakan cinta. Karena dialah inspirasi utamaku.
Aku
memetik gitarku dan memainkan beberapa chord untuk membuka perasaan
dan kudapatkan apa yang aku cari. Aku mulai mengingat
kenangan-kenanganku dengan Reva. Maka terhanyutlah aku dalam suasana
yang dalam. Dan tanpa kusadari hampir tengah malam aku menyelesaikan
dasar laguku beserta liriknya. Keesokannya kusempurnakan nada-nada
yang aku susun malamnya dan siang ini aku berniat menggunakan lagu
itu untuk menyatakan perasaanku pada Reva. Aku tak begitu yakin
sebenarnya mengenai rencana yang itu. Karena Reva adalah gadis aneh
dan unik yang pernah aku temui. Kebanyakan gadis mulai meletakkan
perasaan pada laki-laki yang dekat dengannya dan mulai menjalin
perasaan. Tapi, tidak dengan Reva. Selama hampir 2 tahun ini
bersamaku, dia tetap menganggapku sahabatnya tanpa menunjukkan
perasaan yang aneh-aneh seperti teman gadisku yang lain. Dia begitu
polos. Hingga tak menyadari banyak laki-laki yang menginginkannya.
Terutama aku.
Siang
ini, aku rasa dia akan muncul dengan tampang acak-acakannya seperti
biasa. Rambut terikat tak karuan, lari terengah-engah. Dan dia pasti
terlambat bangun karena melihat film terlalu lama atau terlalu
terhanyut mendengarkan musik sambil menangis. Jadi kuputuskan untuk
menunggunya dibawah pohon depan ruang latihan kami seperti biasa. Aku
berbaring disana. Mempersiapkan kata-kata untuk kusampaikan pada Reva
tentang perasaanku, kuharap dia memahami maksudku. Aku mengingat
kejadian dengan seniorku lalu, aku takut hari ini Reva akan meolakku
seperti dia menolak seniorku waktu itu. Aku jadi sedikit resah.
Kupandangi jarum jamku. Dan kutengok kebelakang, ya... Reva sudah
nampak berlarian disana. Seperti yang aku perkirakan. Dia berlarian
karena terlambat, Reva nampak takut aku marahi siang ini. Aku
putuskan untuk mendongak dan menyapanya,
“hallo
nona... kesiangan lagi? Hobi sekali anda membuat saya menunggu anda.”
Seruku menyindir. Dia pasti menyadari jika aku sedikit menyindirnya
sekarang. Reva hanya memberi senyuman dan meminta maaf sekadarnya dan
tanpa basa-basi memintaku untuk menyanyikan laguku. Memang Reva,
tanpa basa-basi sungguhlah dirinya. Aku sudah menebak akan begini
jadinya. Aku jadi bingung harus mulai dari mana. Karena, sebenarnya
sebelum kunyanyikan lagu ini aku ingin sekali mengungkapkan
perasaanku. ‘what should I do?’
Sambil
aku manata kata-kata jadilah aku menggodanya. Aku menggodanaya dengan
berpura-pura tak mau menyanyikan lagu itu. Meskipun dalam hatiku
sebenarnya sedang bergejolak begitu banyak kebingungan untuk
mengungkapkan perasaanku yang tak tertahankan lagi. Reva terus
merayuku dan meminta maaf karena datang
terlambat. Aku terus memasang wajah kesal karena dia terlambat, meski
sebenarnya aku kesal dengan diriku sendiri yang tak mampu mengatakan
isi hatiku. Aku masih begitu takut dia malah akan pergi dan
menjauhiku jika dia tahu aku memendam perasaan padanya.
“ayolah...
aku sungguh-sungguh minta maaf karena terlambat. Sekarang, bernyanyi
ya...” rayu Reva memintaku memainkan gitar. “ayolah...”
pintanya lagi sambil mengoyak-oyak badanku untuk memintaku bangun.
Aku
duduk, dan menatap Reva lekat-lekat. Lalu karena begitu kesal aku
mencubit pipinya. Aku lihat dia merasa kesakitan dan berusaha
melepaskan cubitan itu. Namun tak berhasil. Jadilah dia begitu pasrah
menunggu aku puas mencubit pipinya. Kupandangi pipinya yang memerah,
perasaanku semakin tak karuan.
“hentikan...
pipiku sakit. Makin merah nanti.” Pinta Reva sambil mencoba
melepaskan cubitan itu. Teriakan itu mengembalikanku ke bumi dari
kebingungan yang menusukku.
“bisakah?
Bisakah kamu berhenti membuat aku menunggumu? Aku lelah tau. Aku tak
akan menunggumu lagi setelah ini. Dan setelah resital ini aku tak mau
menunggumu lagi. Paham?” kataku sebelum melepaskan cubitanku dari
pipinya yang sangat merah sekarang. Tanpa kusadari, hampir saja
kata-kataku tak terkontrol. Tapi, kulihat Reva tak menyadari maksudku
dengan kalimatku yang tak mau menunggunya. Tapi untunglah, karena dia
tidak begitu menanggapinya. Seperti yang kutakakutkan. Reva malah
mengira aku marah karena dia datang terlambat hari ini.
Reva
kembali merayuku. Kuputuskan untuk menyanyikan laguku. Kukatakan di
telepon tadi pagi pada Reva jika lagu ini untuknya. Tapi kuduga dia
tak akan mengerti maksudnya, dan dugaanku itu benar. Dia nampak
begitu biasa saja.
Kunyanyikan
laguku, dalam bait-bait awal aku bernyanyi dengan terus mamandangi
Reva. Namun, Reva begitu mudah terhanyut dalam musik. Dia langsung
masuk ke dunianya sendiri setelah beberapa bait. Akupun akhirnya
begitu menikmati laguku. Dengan membayangkan Reva ada didalamnya.
Kunyanyikan laguku dengan penuh perasaan, dengan berharap Reva
menyadari bahwa dialah yang kumaksudkan.
“bagaimana?”
tanyaku. Dia nampak belum kembali dari dunianya. Seperti biasa.
Kupandangi wajah merahnya. Dia meneteskan air mata. Kuharap dia
memahami maksud laguku. Kuminta dia berkomentar. Tapi dia tetap saja
diam. Reva terus saja terdiam. Dia nampak begitu terkagum-kagum. Aku
suka memandangi wajah ini saat mendengar aku bernyanyi. Reva selalu
nampak begitu cantik seusai menutup matanya sambil menikmati lagu.
Dia nampak begitu polos disana. Wajah yang selalu aku rindukan.
“ada
apa? Ada sesuatu pada diriku? Pandanganmu cukup menggangguku. Cepat
hentikan!” bentak Reva padaku tak tahan terinterogasi secara batin
oleh pandanganku.
“tak
ada sesuatu pada wajahmu. Tapi ada yang aneh.” Jawabku mengalihkan
pembicaraan, karena aku juga jadi salah tingkah terlalu lama
memandanginya.
“apa?
Apa yang aneh dariku?” tanyanya lagi nampak begitu bingung sendiri.
“aku
tahu. Setiap kau mendengarkan sebuah lagu, kamu pasti akan terbang
sendirian ke dalam duniamu. Tapi, hari ini berbeda. Kau sampai
menangis dan terjatuh terlalu jauh pada laguku.” Kataku menjelaskan
mencari-cari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
“mungkin
itu karena lagumu terlalu bagus. Sampai aku begitu terhanyut.”
Katanya lagi sambil meraih gitar yang aku letakkan diantara kami.
Dan, mendengar kata-katanya dengan senyuman. Aku terus saja mengorek
jawaban darinya. Jawaban yang sebenarnya sudah kuketahui. Tapi, aku
masih begitu kebingungan untuk mencari kesempatan menyatakan
perasaanku pada Reva hari ini.
“bohong!
Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan! Sekarang juga katakan!
Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Katakan sekarang juga
dengan jujur!” seruku menelisik “ cepat! Katakan!” kataku
memaksa lagi. Aku begitu menikmati saat-saat bersamanya seperti ini.
Hal ini yang membuatku selalu memendam perasaanku padanya sampai
selama ini. Aku begitu takut kehilangan saat-saat bersamanya.
“apa?
Apa yang aku sembunyikan? Tak ada.” Jawabnya sambil menarik gitar
dan menatanya dipangkuan, Reva mulai memetik senarnya secara acak tak
karuan.
“itukan!
Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tak bisa bohong dariku.
Begitu gugupnya sampai bingung tak bisa memainkan gitar dengan benar.
Katakan sajalah...” jawabku seakan menemukan sesuatu darinya.
Keluguannya yang manis. Dia tak begitu bisa menutupi perasaan yang
ada pada dirinya.
“terserah
padamu. Aku tak ada rahasia yang perlu aku katakan.” Jawabnya ketus
dan mulai memainkan gitar secara tak karuan.
“ya
sudah kalau tak mau katakan. Aahhh... tapi hentikan permainanmu yang
merusak telinga itu. Dan berikan komentar pada laguku.” Pintaku
lagi menagih jawaban. Aku pandangi wajahnya mencari-cari jawaban
untuk keresahan hatiku. Aku memegang gitar itu dan meraihnya dari
pelukan Reva. “ bagaimana?” desakku tak sabar.
Kurasa
inilah saatnya, aku tak mampu lagi menahan perasaanku padanya. Aku
tak begitu meledak rasanya. Aku berlutut didepan Reva dengan memeluk
gitarku untuk menambah kepercayaan diriku. Karena begitu gugupnya
untuk menyatakan perasaanku. Jadilah aku sedikit gemetar. Kututupi
itu dengan memegangi gitarku.
“bagaimana
nona? Lagu yang aku persembahkan untukmu? Indahkah? “ tanyaku penuh
senyuman. Perasaanku sungguh tak karuan. Bukan itu yang sebenarnya
yang ingin aku tanyakan. “nona? Bagaimana?...” kulihat Reva tetap
saja terdiam dan tak menjawab. Kutunggu jawaban dari pertanyaan yang
bukan hal yang benar-benar aku tanyakan padanya. Begitu lama dia
memikirkan jawaban. Perasaanku semakin tak karuan.
Pertanyaan-pertanyaan bodoh muncul dipukiranku. Ketakutan-ketakutan
muncul.
“Ya!
Cepatlah jawab! Aku sedang berbaik hati dan mencoba menirukan adegan
romatis seperti di film,film dan drama oriental yang sering kamu
tonton itu! Kenapa kamu tak bisa merespon dengan baik. Dasar kau! Tak
ada sisi manis dan romantisnya sebagai gadis!” sentakku tak tahan
dengan apa yang aku lakukan sendiri. Kuurungkan niatku untuk
menyatakan cintaku pada Reva saat ini.
“Dante!!!
Apa yang sedang kamu lakukan saat ini??? Ini bisa membuta Reva
menjauhimu!” perasaan ini yang terus saja muncul dalam benakku. Aku
sungguh menyesali kebodohanku ini.
“jahat
sekali kamu! Tak ada sisi romantisnya katamu, kejam sekali kamu
menghina perempuan. Aku benci padamu...” jawabnya marah dan
memalingkan wajah dariku. Aku jadi bingung. Sungguh merasa bersalah
pada Reva. Apa yang akan terjadi setelah ini?
“ya...
marah. Aku tahu, kamu begitu penuh perasaan, mendengar lagu saja
sampai menagis, apalagi melihat film kamu seakan bisa ikut mati kalau
pemeran utamanya menangis. Tapi...” kalimatku merayu terpotong.
“tapi
apa?” jawab Reva memotong kalimatku.
“tapi,
kamu selalu tak bisa memahami jika hal itu benar-benar terjadikan?”
jelasku. Tak sadar kalimat itu terucap. Aku semakin tak karuan.
“
maksudmu? Benar-benar terjadi? Aku mengalaminya
maksudmu?” tanya Reva tak memahami kata-kataku. Aku cukup tenang
dia tak memahami maksudku.
“iya.
Seperti tadi. Saat aku menyanyikan lagu. Kamu terhanyut. Tapi saat
aku katakan dengan yang sedikit romantis, kamu tak merespon dan hanya
sedikit mengeluarkan emosi kamu memahami kata-kataku. Atau lebih
tepatnya kamu tak ada perasaan untuk menjawabnya.” Jelasku padanya
penuh penyesalan, karena aku tak begitu memahami diriku saat ini
sebenarnya.
“
haha... kau ini. Begitu saja marah. Kalau kamu yang
lakukan itu padaku, aku tak akan terhanyut dan malah ingin tertawa
melihat ekspresimu. Sudah jangan aneh-aneh. Bigini ya, lagumu begitu
bagus. Kamu bisa ajukan lagu itu pada dosenmu dan mulai membuat
melodinya dan saat lagu itu di setujui oleh dosenmu kamu bisa segera
lakukan resital dan aku akan membantumu melakukannya. Bagaimana? Aku
yakin lagu itu pasti disetujui, karena musiknya sederhana tapi begitu
misterius dan membuat orang ingin mengerti klimaksnya. “ Reva mulai
berkata-kata. Aku sudah tak peduli pada laguku saat ini. Aku dalam
kebingungan yang mendalam.
“ada
apa?” tanya Reva menghentikan kalimatnya. Mungkin dia menyadari aku
sudah tak menanggapi kalimatnya.
“ada
kata-kataku yang salah?” tanyanya melihatku hanya terdiam. Aku
semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan saat ini. Kumohon Reva,
pahami perasaanku. Aku sungguh tak peduli dengan anggapan Reva
sekarang. Aku hanya ingin perasaanku terbebas. Akan kukatakan yang
ada dalam hatiku agar tak menjadi beban seperti ini.
“begitukah, begitukah perasaanmu yang sesungguhnya
padaku? Begitu dinginnya? Tak adakah sedikitpun rasamu padaku?”
jawabnku. Semuanya serasa meledak. Reva nampak terkejut. Kalimatku
tadi cukup meleburkan kesunyian yang tercipta sesaat tadi. Reva
nampak kebingungan dengan kalimatku. Aku tak peduli dengan Reva. Aku
hanya ingin melepaskan beban yang kupendam selama ini padanya.
“tak
ada sedikitpun sisi dalam hatimu yang terisi akan diriku? Tak
seditkpun? Tak tahukah dirimu, setiap napasku, kuhembuskan hanya
untukmu, dan tak sedikitpun dihatiku yang tak inginkan dirimu. Setiap
langkahku aku terhenti dan hanya inginkan kamu dan hanya karena
mengingatmu aku tak mampu terlelap dalam tidurku, dan juga karenamu
jantungku selalu berusaha untuk berdetak. Don’t you know? I’do
love love and don’t wanna lose you, now or ever?” kalimatku
kuhentikan. Aku tersadar. Tapi, jika ini benar kulanjutkan dan respon
yang diberikan Reva lain dari yang kuharakan, maka semua akan
berakhir begitu saja. Bodohnya,,, apa yang aku lakukan ini? Semua
makin rumit.
Kupandangi
wajah Reva. Berharap Reva memahami maksudku. Atau lebih baik dia tak
mengerti sama sekali apa maksudku. Tapi, Reva malah meneteskan air
mata. Apa yang aku lakukan? Aku membuatnya menangis. Aku jadi bingung
dengan Reva sekarang. Bukan lagi dengan perasaanku yang membelengguku
tadi. Aku begitu tak tahan melihatnya menangis. Aku tak mampu
melihatnya meneteskan air mata seperti itu.
“Dante,
aku tak mengerti maksudmu. Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya
tak mau mengomentari lagumu, dan tak menyukai lagumu meskipun kamu
menciptakannya untukku, tapi lagumu memang begitu bagus dan aku tak
tahu harus berkomentar apa. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku,,
aku,, hwa...!” tangisnya pecah. Membuatku menyadari, inilah Reva.
Dia memang menyayangiku. Dalam lingkup persahabatan. Aku harus
menerima ini. Memang tak lengkap dihatiku. Tapi hanya ini yang ada di
dalam diri Reva. Mungkin karena traumanya pada pacaran karena
Seniorku dulu, atau masa lalu di kehidupannya yang ia sembunyikan
dari dulu padaku. Tentang dirinya dan kehidupannya yang tak pernah
mau dia ceritakan, ataupun diingatnya lagi. Menyadari itu, aku
sedikit sedih. Tapi juga bahagia. Setidaknya aku masih bisa
bersamanya sekarang. Sedikat ini. Meski perasaanku tak tersampaikan,
setidaknya aku dapat terus bersamanya. Dan melindunginya. Memberikan
kasihku padanya.
“
haha... Reva.. Reva... aku tahu dan begitu memahami
kalau kamu begitu menyukai laguku. Makanya aku lakukan ini. Ini
adalah kometarmu yang begitu aku nantikan. Dengan begini aku begitu
percaya diri untuk mengajukan lagu ini pada dosenku. Sudahlah.
Berhenti menangis. Pipimu tak menangis sudah seperti kepiting rebus,
sekarang kamu menangis malah seperti tomat, jelek sekali tau!
Berhenti menangis” Aku tertawa sambil mengusap-usapkan pipinya yang
manis dengan tissue. Aku bahagia menyadari semua. Aku begitu sayang
padanya. Revaku.
“apa
maksudmu? Kamu membuatku menagis begini HA!!!” tanyanya masih terus
saja menanggis dan tak mempedulikan pandangan orang-orang di taman
yang melihatnya menangis. Dia nampak begitu polos. Aku sangat
tertarik untuk tahu, apa sebenarnya yang ada dalam diri Reva.
Bagaimana perasaan Reva padaku. Apakah memang hanya sahabat. Ataukah
dia juga sesuatu yang lain dihatinya sepertiku.
“sudahlah
berhenti menangis, aku malu dilihati orang-orang di taman ini. Kamu
tak manis jika menangis, hentikan tangisanmu. Reva... ayolah!!!”
pintaku sambil terus melap pipinya yang semakin basah oleh air mata.
“biar,
apa maksudmu? Kau tahu aku tak bisa menahan tangisku kalau sudah
begini. Aku ada pertemuan dengan dosenku sebentar lagi dan kamu
lakukan ini padaku. Kau membuatku nampak aneh di depan dosenku dengan
wajah memerah begini!” jawabnya ketus. Aku jadi ingat, kalau
sebentar lagi kami akan menemui dosen kami untuk menyerahkan lagu
ini. Aku jadi tertawa dalam hati sendiri. Hanya karena aku tak dapat
menahan perasaan ini, aku bisa melupakan segala hal seperti hari ini.
Tapi, meski tak sesuai harapanku hari ini cukup membuatku lega dengan
dapat mengatakan apa yang ingin aku katakan pada Reva selama ini.
“makanya
berhentilah menangis. Aku tak tahan melihatmu menangis. Kau tahu...”
kataku sambil tertawa, tapi sayang Reva sudah kembali ke bumi.
Judesnya kembali. Dia memotong kalimatku.
“
ya aku tahu, apa yang akan kamu katakan. Aku memang tak
tampak manis jika menangis seperti Vyeryn saat menangis di kelas
akting lalu. Aku tahu, aku begitu tahu kamu menganggumi wajah apik
Vyeryn.” Potongnya. Aku sebenarnya saat itu tidak memandangi
tangisan Vyeryn. Aku malah memandangi wajan Reva saat itu. Tapi,
karena kjetahuan memandanginya, aku yang salah tingkah jadi
mengalihkan pembicaraan mengenai Vyeryn. Meski sebenarnnya hanya Reva
yang aku kagumi.
“
nah, itu. Kamu tahu. Jadi berhentilah menangis.”
Jawabku lagi merayunya untuk berhenti menangis. Karena sekarang
wajahnya benar-benar sangat merah. Wajah ini yang selalu aku
rindukan. Entah mengapa, wajah Reva selalu nampak memerah, meski
hanya terkena sedikit matahari. Tapi hal itu yang membuatnya nampak
begitu manis.
Reva
nampak berusaha menghentikan tangisnya. Sedikit sesenggukan. Kuberi
Reva minum agar sedikit tenang. Setelah nampak tenang, tanpa
memberikan sedikit kata padaku dia berdiri, berjalan menuju ruang
dosennya. Kuikuti dia dibelakang. Aku akan membantunya untuk
resitalnya musim ini. Dia begitu percaya padaku untuk membantunya
musim ini. Aku senang dia percaya padaku. Kami akan membawakan lagu
ciptaanku untuknya. Aku merasa ini tak akan sulit. Karena lagu ini
tentang dia, dan ini akan membuatku makin dekat padanya.
Dengan
sedikit kelegaan dihati karena mampu mengungkapkan perasaanku meski
tak secara langsung, aku bahagia dapat melakukannya. Aku tak
membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, jika Reva menyadari
maksudku. Dan dia menolakku, karena tak mau berpacaran denganku.
Karena akulah satu-satunya orang yang paling tahu, jika Reva begitu
takut untuk menjalin hubungan semacam itu. Dia selalu mengatakan,
kalau dia bahagia dengan persahabatan kami. Dia tak peduli jika tak
ada teman yang mau bersamanya, asalkan aku bersmanya. Hal itu
membuatku bahagia, awalnya. Karena aku pikir, hanya aku yang ada
dipikirannya. Tapi, lama-kelamaan sedikit menyakitkan karna perasaan
itu tak berubah sampai sejauh ini.
Hal
itulah yang membuatku begitu tertarik pada Reva. Apa sebenarnya
alasan dia bersikap seperti itu. Tapi, biarlah itu jadi rahasianya.
Aku hanya akan terus menjaga dan manyanginya juga setia menunggu
sampai dia menyadari perasaanku padanya. Jadi, biarlah semua begini.
Berjalan apa adanya, seperti biasa. Asalkan aku dapat bersamanya
selalu. Oh,My beloved mystery, Reva.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar