Jumat, 31 Agustus 2012

Cerpen Remaja

waktu yang lalu saya sempat menulis sebuah cerpen buat teman saya yang ulang tahun. dan peda saat ini saya ingin menceritakan cerita tersebut kembali, tetapi kali ini saya menulis dari sisi yang lain tokoh dalm cerita tersebut. jika yang lau saya menulis dari sudut si gadis. maka sekarang saya akan menulis cerita tersebut dari sudut sang cowok, so... let check it... wish you love it ^___^


My Mystery

Aku terkadang benar-benar tak mengerti jalan pikiran Reva, dia gadis baik. Banyak sebenarnya yang sangat menarik darinya. Tapi entah mengapa tak banyak anak yang mau berteman dengannya. Bukannya aku tak benar-benar tahu mengapa Reva tak memilki banyak teman. Karena aku saksi kejadian itu. Hal itu terjadi pada awal musim pertama kami. Hanya karena tingkah senior kami yang tak bisa menahan perasaan dan sulit memahami bahasa manusia itu.
Aku sebenarnya sudah mulai melupakan kejadian itu. Tapi, saat aku sedang sendiri dan memikirkan Reva, tanpa sengaja ingatan itu sering muncul. Membuat aku kesal, mengingat kebencianku pada seniorku itu dan banyak lagi kejadian buruk yang menimpa Reva setelah kejadian itu dan membuat aku geram. Perlakuan aneh dan canggung yang menjadi biasa saja bagi Reva kini, karena menjadi kebiasaan. Dijahili, dihina, digunjing sana-sini, sangat biasa bagi Reva. Untungnya dia anak yang tidak terlalu menampakkan kesedihannya dan tidak terlalu mempedulikan hal-hal semacam itu. Dan kejadian itu memupuk Reva yang kuat dan ceria seperti sekarang. Revaku yang aku sayangi.
Siang ini aku sebenarnya berniat menyatakan perasaanku pada Reva. Perasaan yang aku simpan selama hampir 3 musim sekolahku. Aku selalu dianggapnya sahabat. Meskipun aku menikmati anggapan itu. Tapi terkadang keinginan untuk memiliki Reva dengan status yang lain dan lebih mendalam sering kali muncul. Seperti malam lusa, saat aku ingat dia maminta untuk dibuatkan lagu untuk resital musim ini. Aku memang tak bingung mencari inspirasi mengenai lirik lagu-laguku yang kebanyakan bertemakan cinta. Karena dialah inspirasi utamaku.
Aku memetik gitarku dan memainkan beberapa chord untuk membuka perasaan dan kudapatkan apa yang aku cari. Aku mulai mengingat kenangan-kenanganku dengan Reva. Maka terhanyutlah aku dalam suasana yang dalam. Dan tanpa kusadari hampir tengah malam aku menyelesaikan dasar laguku beserta liriknya. Keesokannya kusempurnakan nada-nada yang aku susun malamnya dan siang ini aku berniat menggunakan lagu itu untuk menyatakan perasaanku pada Reva. Aku tak begitu yakin sebenarnya mengenai rencana yang itu. Karena Reva adalah gadis aneh dan unik yang pernah aku temui. Kebanyakan gadis mulai meletakkan perasaan pada laki-laki yang dekat dengannya dan mulai menjalin perasaan. Tapi, tidak dengan Reva. Selama hampir 2 tahun ini bersamaku, dia tetap menganggapku sahabatnya tanpa menunjukkan perasaan yang aneh-aneh seperti teman gadisku yang lain. Dia begitu polos. Hingga tak menyadari banyak laki-laki yang menginginkannya. Terutama aku.
Siang ini, aku rasa dia akan muncul dengan tampang acak-acakannya seperti biasa. Rambut terikat tak karuan, lari terengah-engah. Dan dia pasti terlambat bangun karena melihat film terlalu lama atau terlalu terhanyut mendengarkan musik sambil menangis. Jadi kuputuskan untuk menunggunya dibawah pohon depan ruang latihan kami seperti biasa. Aku berbaring disana. Mempersiapkan kata-kata untuk kusampaikan pada Reva tentang perasaanku, kuharap dia memahami maksudku. Aku mengingat kejadian dengan seniorku lalu, aku takut hari ini Reva akan meolakku seperti dia menolak seniorku waktu itu. Aku jadi sedikit resah. Kupandangi jarum jamku. Dan kutengok kebelakang, ya... Reva sudah nampak berlarian disana. Seperti yang aku perkirakan. Dia berlarian karena terlambat, Reva nampak takut aku marahi siang ini. Aku putuskan untuk mendongak dan menyapanya,
hallo nona... kesiangan lagi? Hobi sekali anda membuat saya menunggu anda.” Seruku menyindir. Dia pasti menyadari jika aku sedikit menyindirnya sekarang. Reva hanya memberi senyuman dan meminta maaf sekadarnya dan tanpa basa-basi memintaku untuk menyanyikan laguku. Memang Reva, tanpa basa-basi sungguhlah dirinya. Aku sudah menebak akan begini jadinya. Aku jadi bingung harus mulai dari mana. Karena, sebenarnya sebelum kunyanyikan lagu ini aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku. ‘what should I do?’
Sambil aku manata kata-kata jadilah aku menggodanya. Aku menggodanaya dengan berpura-pura tak mau menyanyikan lagu itu. Meskipun dalam hatiku sebenarnya sedang bergejolak begitu banyak kebingungan untuk mengungkapkan perasaanku yang tak tertahankan lagi. Reva terus merayuku dan meminta maaf karena datang terlambat. Aku terus memasang wajah kesal karena dia terlambat, meski sebenarnya aku kesal dengan diriku sendiri yang tak mampu mengatakan isi hatiku. Aku masih begitu takut dia malah akan pergi dan menjauhiku jika dia tahu aku memendam perasaan padanya.
ayolah... aku sungguh-sungguh minta maaf karena terlambat. Sekarang, bernyanyi ya...” rayu Reva memintaku memainkan gitar. “ayolah...” pintanya lagi sambil mengoyak-oyak badanku untuk memintaku bangun.
Aku duduk, dan menatap Reva lekat-lekat. Lalu karena begitu kesal aku mencubit pipinya. Aku lihat dia merasa kesakitan dan berusaha melepaskan cubitan itu. Namun tak berhasil. Jadilah dia begitu pasrah menunggu aku puas mencubit pipinya. Kupandangi pipinya yang memerah, perasaanku semakin tak karuan.
hentikan... pipiku sakit. Makin merah nanti.” Pinta Reva sambil mencoba melepaskan cubitan itu. Teriakan itu mengembalikanku ke bumi dari kebingungan yang menusukku.
bisakah? Bisakah kamu berhenti membuat aku menunggumu? Aku lelah tau. Aku tak akan menunggumu lagi setelah ini. Dan setelah resital ini aku tak mau menunggumu lagi. Paham?” kataku sebelum melepaskan cubitanku dari pipinya yang sangat merah sekarang. Tanpa kusadari, hampir saja kata-kataku tak terkontrol. Tapi, kulihat Reva tak menyadari maksudku dengan kalimatku yang tak mau menunggunya. Tapi untunglah, karena dia tidak begitu menanggapinya. Seperti yang kutakakutkan. Reva malah mengira aku marah karena dia datang terlambat hari ini.
Reva kembali merayuku. Kuputuskan untuk menyanyikan laguku. Kukatakan di telepon tadi pagi pada Reva jika lagu ini untuknya. Tapi kuduga dia tak akan mengerti maksudnya, dan dugaanku itu benar. Dia nampak begitu biasa saja.
Kunyanyikan laguku, dalam bait-bait awal aku bernyanyi dengan terus mamandangi Reva. Namun, Reva begitu mudah terhanyut dalam musik. Dia langsung masuk ke dunianya sendiri setelah beberapa bait. Akupun akhirnya begitu menikmati laguku. Dengan membayangkan Reva ada didalamnya. Kunyanyikan laguku dengan penuh perasaan, dengan berharap Reva menyadari bahwa dialah yang kumaksudkan.
bagaimana?” tanyaku. Dia nampak belum kembali dari dunianya. Seperti biasa. Kupandangi wajah merahnya. Dia meneteskan air mata. Kuharap dia memahami maksud laguku. Kuminta dia berkomentar. Tapi dia tetap saja diam. Reva terus saja terdiam. Dia nampak begitu terkagum-kagum. Aku suka memandangi wajah ini saat mendengar aku bernyanyi. Reva selalu nampak begitu cantik seusai menutup matanya sambil menikmati lagu. Dia nampak begitu polos disana. Wajah yang selalu aku rindukan.
ada apa? Ada sesuatu pada diriku? Pandanganmu cukup menggangguku. Cepat hentikan!” bentak Reva padaku tak tahan terinterogasi secara batin oleh pandanganku.
tak ada sesuatu pada wajahmu. Tapi ada yang aneh.” Jawabku mengalihkan pembicaraan, karena aku juga jadi salah tingkah terlalu lama memandanginya.
apa? Apa yang aneh dariku?” tanyanya lagi nampak begitu bingung sendiri.
aku tahu. Setiap kau mendengarkan sebuah lagu, kamu pasti akan terbang sendirian ke dalam duniamu. Tapi, hari ini berbeda. Kau sampai menangis dan terjatuh terlalu jauh pada laguku.” Kataku menjelaskan mencari-cari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
mungkin itu karena lagumu terlalu bagus. Sampai aku begitu terhanyut.” Katanya lagi sambil meraih gitar yang aku letakkan diantara kami. Dan, mendengar kata-katanya dengan senyuman. Aku terus saja mengorek jawaban darinya. Jawaban yang sebenarnya sudah kuketahui. Tapi, aku masih begitu kebingungan untuk mencari kesempatan menyatakan perasaanku pada Reva hari ini.
bohong! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan! Sekarang juga katakan! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Katakan sekarang juga dengan jujur!” seruku menelisik “ cepat! Katakan!” kataku memaksa lagi. Aku begitu menikmati saat-saat bersamanya seperti ini. Hal ini yang membuatku selalu memendam perasaanku padanya sampai selama ini. Aku begitu takut kehilangan saat-saat bersamanya.
apa? Apa yang aku sembunyikan? Tak ada.” Jawabnya sambil menarik gitar dan menatanya dipangkuan, Reva mulai memetik senarnya secara acak tak karuan.
itukan! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tak bisa bohong dariku. Begitu gugupnya sampai bingung tak bisa memainkan gitar dengan benar. Katakan sajalah...” jawabku seakan menemukan sesuatu darinya. Keluguannya yang manis. Dia tak begitu bisa menutupi perasaan yang ada pada dirinya.
terserah padamu. Aku tak ada rahasia yang perlu aku katakan.” Jawabnya ketus dan mulai memainkan gitar secara tak karuan.
ya sudah kalau tak mau katakan. Aahhh... tapi hentikan permainanmu yang merusak telinga itu. Dan berikan komentar pada laguku.” Pintaku lagi menagih jawaban. Aku pandangi wajahnya mencari-cari jawaban untuk keresahan hatiku. Aku memegang gitar itu dan meraihnya dari pelukan Reva. “ bagaimana?” desakku tak sabar.
Kurasa inilah saatnya, aku tak mampu lagi menahan perasaanku padanya. Aku tak begitu meledak rasanya. Aku berlutut didepan Reva dengan memeluk gitarku untuk menambah kepercayaan diriku. Karena begitu gugupnya untuk menyatakan perasaanku. Jadilah aku sedikit gemetar. Kututupi itu dengan memegangi gitarku.
bagaimana nona? Lagu yang aku persembahkan untukmu? Indahkah? “ tanyaku penuh senyuman. Perasaanku sungguh tak karuan. Bukan itu yang sebenarnya yang ingin aku tanyakan. “nona? Bagaimana?...” kulihat Reva tetap saja terdiam dan tak menjawab. Kutunggu jawaban dari pertanyaan yang bukan hal yang benar-benar aku tanyakan padanya. Begitu lama dia memikirkan jawaban. Perasaanku semakin tak karuan. Pertanyaan-pertanyaan bodoh muncul dipukiranku. Ketakutan-ketakutan muncul.
Ya! Cepatlah jawab! Aku sedang berbaik hati dan mencoba menirukan adegan romatis seperti di film,film dan drama oriental yang sering kamu tonton itu! Kenapa kamu tak bisa merespon dengan baik. Dasar kau! Tak ada sisi manis dan romantisnya sebagai gadis!” sentakku tak tahan dengan apa yang aku lakukan sendiri. Kuurungkan niatku untuk menyatakan cintaku pada Reva saat ini.
Dante!!! Apa yang sedang kamu lakukan saat ini??? Ini bisa membuta Reva menjauhimu!” perasaan ini yang terus saja muncul dalam benakku. Aku sungguh menyesali kebodohanku ini.
jahat sekali kamu! Tak ada sisi romantisnya katamu, kejam sekali kamu menghina perempuan. Aku benci padamu...” jawabnya marah dan memalingkan wajah dariku. Aku jadi bingung. Sungguh merasa bersalah pada Reva. Apa yang akan terjadi setelah ini?
ya... marah. Aku tahu, kamu begitu penuh perasaan, mendengar lagu saja sampai menagis, apalagi melihat film kamu seakan bisa ikut mati kalau pemeran utamanya menangis. Tapi...” kalimatku merayu terpotong.
tapi apa?” jawab Reva memotong kalimatku.
tapi, kamu selalu tak bisa memahami jika hal itu benar-benar terjadikan?” jelasku. Tak sadar kalimat itu terucap. Aku semakin tak karuan.
maksudmu? Benar-benar terjadi? Aku mengalaminya maksudmu?” tanya Reva tak memahami kata-kataku. Aku cukup tenang dia tak memahami maksudku.
iya. Seperti tadi. Saat aku menyanyikan lagu. Kamu terhanyut. Tapi saat aku katakan dengan yang sedikit romantis, kamu tak merespon dan hanya sedikit mengeluarkan emosi kamu memahami kata-kataku. Atau lebih tepatnya kamu tak ada perasaan untuk menjawabnya.” Jelasku padanya penuh penyesalan, karena aku tak begitu memahami diriku saat ini sebenarnya.
haha... kau ini. Begitu saja marah. Kalau kamu yang lakukan itu padaku, aku tak akan terhanyut dan malah ingin tertawa melihat ekspresimu. Sudah jangan aneh-aneh. Bigini ya, lagumu begitu bagus. Kamu bisa ajukan lagu itu pada dosenmu dan mulai membuat melodinya dan saat lagu itu di setujui oleh dosenmu kamu bisa segera lakukan resital dan aku akan membantumu melakukannya. Bagaimana? Aku yakin lagu itu pasti disetujui, karena musiknya sederhana tapi begitu misterius dan membuat orang ingin mengerti klimaksnya. “ Reva mulai berkata-kata. Aku sudah tak peduli pada laguku saat ini. Aku dalam kebingungan yang mendalam.
ada apa?” tanya Reva menghentikan kalimatnya. Mungkin dia menyadari aku sudah tak menanggapi kalimatnya.
ada kata-kataku yang salah?” tanyanya melihatku hanya terdiam. Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan saat ini. Kumohon Reva, pahami perasaanku. Aku sungguh tak peduli dengan anggapan Reva sekarang. Aku hanya ingin perasaanku terbebas. Akan kukatakan yang ada dalam hatiku agar tak menjadi beban seperti ini.
begitukah, begitukah perasaanmu yang sesungguhnya padaku? Begitu dinginnya? Tak adakah sedikitpun rasamu padaku?” jawabnku. Semuanya serasa meledak. Reva nampak terkejut. Kalimatku tadi cukup meleburkan kesunyian yang tercipta sesaat tadi. Reva nampak kebingungan dengan kalimatku. Aku tak peduli dengan Reva. Aku hanya ingin melepaskan beban yang kupendam selama ini padanya.
tak ada sedikitpun sisi dalam hatimu yang terisi akan diriku? Tak seditkpun? Tak tahukah dirimu, setiap napasku, kuhembuskan hanya untukmu, dan tak sedikitpun dihatiku yang tak inginkan dirimu. Setiap langkahku aku terhenti dan hanya inginkan kamu dan hanya karena mengingatmu aku tak mampu terlelap dalam tidurku, dan juga karenamu jantungku selalu berusaha untuk berdetak. Don’t you know? I’do love love and don’t wanna lose you, now or ever?” kalimatku kuhentikan. Aku tersadar. Tapi, jika ini benar kulanjutkan dan respon yang diberikan Reva lain dari yang kuharakan, maka semua akan berakhir begitu saja. Bodohnya,,, apa yang aku lakukan ini? Semua makin rumit.
Kupandangi wajah Reva. Berharap Reva memahami maksudku. Atau lebih baik dia tak mengerti sama sekali apa maksudku. Tapi, Reva malah meneteskan air mata. Apa yang aku lakukan? Aku membuatnya menangis. Aku jadi bingung dengan Reva sekarang. Bukan lagi dengan perasaanku yang membelengguku tadi. Aku begitu tak tahan melihatnya menangis. Aku tak mampu melihatnya meneteskan air mata seperti itu.
Dante, aku tak mengerti maksudmu. Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya tak mau mengomentari lagumu, dan tak menyukai lagumu meskipun kamu menciptakannya untukku, tapi lagumu memang begitu bagus dan aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku,, aku,, hwa...!” tangisnya pecah. Membuatku menyadari, inilah Reva. Dia memang menyayangiku. Dalam lingkup persahabatan. Aku harus menerima ini. Memang tak lengkap dihatiku. Tapi hanya ini yang ada di dalam diri Reva. Mungkin karena traumanya pada pacaran karena Seniorku dulu, atau masa lalu di kehidupannya yang ia sembunyikan dari dulu padaku. Tentang dirinya dan kehidupannya yang tak pernah mau dia ceritakan, ataupun diingatnya lagi. Menyadari itu, aku sedikit sedih. Tapi juga bahagia. Setidaknya aku masih bisa bersamanya sekarang. Sedikat ini. Meski perasaanku tak tersampaikan, setidaknya aku dapat terus bersamanya. Dan melindunginya. Memberikan kasihku padanya.
haha... Reva.. Reva... aku tahu dan begitu memahami kalau kamu begitu menyukai laguku. Makanya aku lakukan ini. Ini adalah kometarmu yang begitu aku nantikan. Dengan begini aku begitu percaya diri untuk mengajukan lagu ini pada dosenku. Sudahlah. Berhenti menangis. Pipimu tak menangis sudah seperti kepiting rebus, sekarang kamu menangis malah seperti tomat, jelek sekali tau! Berhenti menangis” Aku tertawa sambil mengusap-usapkan pipinya yang manis dengan tissue. Aku bahagia menyadari semua. Aku begitu sayang padanya. Revaku.
apa maksudmu? Kamu membuatku menagis begini HA!!!” tanyanya masih terus saja menanggis dan tak mempedulikan pandangan orang-orang di taman yang melihatnya menangis. Dia nampak begitu polos. Aku sangat tertarik untuk tahu, apa sebenarnya yang ada dalam diri Reva. Bagaimana perasaan Reva padaku. Apakah memang hanya sahabat. Ataukah dia juga sesuatu yang lain dihatinya sepertiku.
sudahlah berhenti menangis, aku malu dilihati orang-orang di taman ini. Kamu tak manis jika menangis, hentikan tangisanmu. Reva... ayolah!!!” pintaku sambil terus melap pipinya yang semakin basah oleh air mata.
biar, apa maksudmu? Kau tahu aku tak bisa menahan tangisku kalau sudah begini. Aku ada pertemuan dengan dosenku sebentar lagi dan kamu lakukan ini padaku. Kau membuatku nampak aneh di depan dosenku dengan wajah memerah begini!” jawabnya ketus. Aku jadi ingat, kalau sebentar lagi kami akan menemui dosen kami untuk menyerahkan lagu ini. Aku jadi tertawa dalam hati sendiri. Hanya karena aku tak dapat menahan perasaan ini, aku bisa melupakan segala hal seperti hari ini. Tapi, meski tak sesuai harapanku hari ini cukup membuatku lega dengan dapat mengatakan apa yang ingin aku katakan pada Reva selama ini.
makanya berhentilah menangis. Aku tak tahan melihatmu menangis. Kau tahu...” kataku sambil tertawa, tapi sayang Reva sudah kembali ke bumi. Judesnya kembali. Dia memotong kalimatku.
ya aku tahu, apa yang akan kamu katakan. Aku memang tak tampak manis jika menangis seperti Vyeryn saat menangis di kelas akting lalu. Aku tahu, aku begitu tahu kamu menganggumi wajah apik Vyeryn.” Potongnya. Aku sebenarnya saat itu tidak memandangi tangisan Vyeryn. Aku malah memandangi wajan Reva saat itu. Tapi, karena kjetahuan memandanginya, aku yang salah tingkah jadi mengalihkan pembicaraan mengenai Vyeryn. Meski sebenarnnya hanya Reva yang aku kagumi.
nah, itu. Kamu tahu. Jadi berhentilah menangis.” Jawabku lagi merayunya untuk berhenti menangis. Karena sekarang wajahnya benar-benar sangat merah. Wajah ini yang selalu aku rindukan. Entah mengapa, wajah Reva selalu nampak memerah, meski hanya terkena sedikit matahari. Tapi hal itu yang membuatnya nampak begitu manis.
Reva nampak berusaha menghentikan tangisnya. Sedikit sesenggukan. Kuberi Reva minum agar sedikit tenang. Setelah nampak tenang, tanpa memberikan sedikit kata padaku dia berdiri, berjalan menuju ruang dosennya. Kuikuti dia dibelakang. Aku akan membantunya untuk resitalnya musim ini. Dia begitu percaya padaku untuk membantunya musim ini. Aku senang dia percaya padaku. Kami akan membawakan lagu ciptaanku untuknya. Aku merasa ini tak akan sulit. Karena lagu ini tentang dia, dan ini akan membuatku makin dekat padanya.
Dengan sedikit kelegaan dihati karena mampu mengungkapkan perasaanku meski tak secara langsung, aku bahagia dapat melakukannya. Aku tak membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, jika Reva menyadari maksudku. Dan dia menolakku, karena tak mau berpacaran denganku. Karena akulah satu-satunya orang yang paling tahu, jika Reva begitu takut untuk menjalin hubungan semacam itu. Dia selalu mengatakan, kalau dia bahagia dengan persahabatan kami. Dia tak peduli jika tak ada teman yang mau bersamanya, asalkan aku bersmanya. Hal itu membuatku bahagia, awalnya. Karena aku pikir, hanya aku yang ada dipikirannya. Tapi, lama-kelamaan sedikit menyakitkan karna perasaan itu tak berubah sampai sejauh ini.
Hal itulah yang membuatku begitu tertarik pada Reva. Apa sebenarnya alasan dia bersikap seperti itu. Tapi, biarlah itu jadi rahasianya. Aku hanya akan terus menjaga dan manyanginya juga setia menunggu sampai dia menyadari perasaanku padanya. Jadi, biarlah semua begini. Berjalan apa adanya, seperti biasa. Asalkan aku dapat bersamanya selalu. Oh,My beloved mystery, Reva.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar