Rabu, 15 Agustus 2012

Cerpen Remaja

kesempatan ini, gak tahu kenapa kok kepikiran sama film-film romantis yang habis diliat kemarin. jadi kepikiran buat sesuatu yang berkesan dari kisah kemarin-kemarin. jadilah tercipta cerpen gak jelas ini. semoga sedikit berkesan deh buat yang baca. tapi khusus, aku ucapain happy birthday buat yang lahir 15/08 cerpen ini buat kamu ... selamat membaca...


Siang itu

Siang itu, aku memutuskan untuk segera menemui sahabatku tercinta. Dante. Kami janji bertemu ditaman depan ruangan latihan kami untuk membahas lagu yang akan kami gunakan untuk resital musim ini. Karena latian perpaduan dan pemilihan pasangan sudah kami lakukan. Jadi tinggal menetukan lagunya. Dante bermaksud emabuat suatu yang berbeda dengan menyanyikan lagunya sendiri. Dan katanya dia menciptakan lagu itu khusus untukku. Biasa bagiku. Karena memang begitulah Danteku tersayang. Sahabatku yang begitu baik, dan selalu menyelamatkan aku dari kesendirian karena kebaodohanku dalam bergaul sejak awal kami bertemu di kampus ini 3 tahun yang lalu.
Aku berlari menuju taman, karena aku tahu Dante akan marah jika aku datang kebih dari 3 menit lagi. Karena aku memang benar-benar terlambat siang ini. Dan dugaanku benar. Dia sudah terbaring diatas rerumputan dibawah pohon disamping gitarnya. Dante pasti sudah menungguku begitu lama. Aku mempercepat langkahku. Tapi tetap saja...
“hallo nona... kesiangan lagi? Hobi sekali anda membuat saya menunggu anda.” Sapa Dante menyindirku. Dan aku rasa dia sedikit kesal padaku karena bahasanya begitu formal.
“maaf tuan... saya sungguh-sungguh minta maaf.” Pintaku sambil menyatukan jariku memohon maaf. Aku raih gitar Dante. Mengeluarkannya dari tasnya dan memberikannya dengan penuh kesopanan dan senyuman lebar untuk merayunya.
“nyanyikan saja” pintaku manja pada Dante. Dia merubah ekspresinya. Manjadi begitu kesal. Dia rebah lagi kererumputan. Sambil menghela napas panjang.
“tak mau!” katanya. “aku jadi ngantuk sekarang. Dengarkan saja demonya. Aku mau tidur sebentar sambil menunggu waktu.
“ayolah... aku sungguh-sungguh minta maaf karena terlambat. Sekarang, bernyanyi ya...” rayuku memintanya memainkan gitar. “ayolah...” pintaku lagi sambil mengoyak-oyak badannya untuk memintanya bangun.
Dante duduk, dia menatapku lekat-lekat. Lalu mencubit pipiku keras. Aku yang kesakitan berusaha melepaskan cubitan itu. Namun tak berhasil. Jadilah aku pasrah menunggunya puas mencubit pipiku.
“hentikan... pipiku sakit. Makin merah nanti.” Pintaku sambil mencoba melepaskan cubitan itu.
“bisakah? Bisakah kamu nberhenti membuat aku menunggumu? Aku lelah tau. Aku tak akan menunggumu lagi setelah ini. Dan setelah resital ini aku tak mau menunggumu lagi. Paham?” sambil memperkuat cubitannya dan kemuadian melepaskannya.
“iya,iya aku tahu. Maaf. Sekarang nyanyi ya?”pintaku lagi. Kuberikan gitarnya dengan memasang wajah sok manis.
“iya.iya. kasih komentar yang jujur setelahnya. Biar nanti resital jadinya bagus. Kan kita mainnya berdua. Kalau ada bagian yang gak kamu suka, katakan! Mengerti? “ tanyanya
“iya.” Jawabku singkat
     Dante memainkan lagunya. Dia mulai memetik dawai gitarnya. Aku mencoba fokus. Dan memahami lagunya. Kudengarkan dengan seksama. Aku mulai terhanyut. Membayangkan Dante dalam situasi seperti dilirik itu. Dia meminta gadisnya untuk tetap berada disampingnya. Dan menjelaskan betapa pentingnya gadis itu bagi Dante. Akan tetapi gadis itu tak memahami maksud Dante dan Dante hanya menyimpan perasaannya sambil melindungi dan mengaharapkan gadis itu selalu ada bersamanya juga tak ingin kehilangan gadis itu.
     Bukan tipe Dante menurutku, menanti seorang gadis sampai seperti itu. Mengingat kebiasaan Dante yang suka menggoda gadis-gadis di kampus dan Dante adalah cowok yang lumayan polpuler dikampus karena kemampuannya menciptakan lagu, yang kadang diamanfaatkannya untuk menggoda gadis-gadis. Tapi sudahlah, itu kisah Dante. Yang pentinga lagunya. Aku mulai terhanyut. Tak heran Dante menjadi idola. Lagunya benar-benar bagus.
Saat mendengar lagu itu, aku membatu. Badanku kaku, seakan dingin tak hidup. Berlebihan? Mungkin. Tapi hal itulah yang aku benar-benar aku rasakan saat mendengar Dante memainkan lagu ciptaannya. Dia menciptakan lagu itu untukku katanya. Dan aku sungguh-sungguh terkagum-kagum mendengar lagu itu. Tanpa aku sadari aku benar-benar terhanyut mendengar lagu itu, hingga tak menyadari Dante telah memetik dawai terakahir dari gitarnya yang melengking memebuyarkan lamunanku.
“bagaimana???” tanya Dante. Aku hanya terdiam tak menjawab. Dante memandangiku. Menatapku, dan tiba-tiba tersenyum. Sambil tersenyum manis dianberseru padaku “hallo,,, nona ayo kembali turun, dan tapaki bumi. Jangan terbang terlalu lama. Bagaimana menurutmu laguku? Kau sampai terpana seperti itu. Berkomentarlah!”.
Aku tergagap, hampir terjungkir dari kursiku. “iiiya... bagus sekali. Aku sampai terpaku”. Dante seakan tak puas dengan jawabanku. Dia kembali memandangiku dan terus menjelajahiku seakan mencari-carisesuatu yang sangat penting miliknya. Aku jadi salah tingkah sendiri melihatnya mencari-cari sesuatu pada diriku.
 “ada apa? Ada sesuatu pada diriku? Pandanganmu cukup menggangguku. Cepat hentikan!” tanyaku yang sudah tak tahan diinterogasi secar batin oleh pandangannya. 
“tak ada sesuatu pada wajahmu. Tapi ada yang aneh.” Jawabnya setelah mengubah pandangannya dan meletakkan gitarnya.
“apa? Apa yang aneh dariku?” tanyaku juga bingung sendiri.
“aku tahu. Setiap kau mendengarkan sebuah lagu, kamu pasti akan terbang sendirian ke dalam duniamu. Tapi, hari ini berbeda. Kau sampai menangis dan terjatuh terlalu jauh pada laguku.” Kata Dante menjelaskan.
“mungkin itu karena lagumu terlalu bagus. Sampai aku begitu terhanyut.” Kataku lagi sambil meraih gitar yang diletakan Dante diantara kami. Dan, menutup kata-kataku dengan senyuman. Tapi, dengan tiba-tiba Dante meraih gitar itu dari palukanku, hingga aku hampir terjatuh karena dudukku yang belum seimbang setelah meraih gitar.
“bohong! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan! Sekarang juga katakan! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Katakan sekarang juga dengan jujur!” seru Dante dengan nada menelisik sambil memegangi gagang gitar yang aku peluk sambil menekankan pandangannya padaku penuh curiga. “ cepat! Katakan!” katanya memaksa lagi.
“apa? Apa yang aku sembunyikan? Tak ada.” Jawabku sambil menarik gitar dan menatanya dipangkuanku, mulai memetik senarnya secara acak tak karuan.
“itukan! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tak bisa bohong dariku. Begitu gugupnya sampai bingung tak bisa memainkan gitar dengan benar. Katakan sajalah...” jawabnya penuh kenggaan seakan menemukan harta karun dari sikapku sambil melipat tangannya.
“terserah padamu. Aku tak ada rahasia yang perlu aku katakan.” Jawabku ketus dan mulai memainkan gitar secara tak karuan.
“ya sudah kalau tak mau katakan. Aahhh... tapi hentikan permainanmu yang merusak telinga itu. Dan berikan komentar pada laguku.” Dante menagih jawabanku. Dia memandangku menanti jawabanku. Dia memegang gitar itu dan meraihnya dariku. “ bagaimana?” desaknya tak sabar. Tiba-tiba dia berlutut di hadapanku sambil memeluk gitar dan memasang wajah begitu sopan, “bagaimana nona? Lagu yang aku persembahkan untukmu? Indahkah? “ tanyanya penuh senyuman. Dia begitu mengharapkan jawabanku. “nona? Bagaimana?...” aku tetap saja terdiam dan tak menjawab dan hanya memandnagi wajahnya. “Ya! Cepatlah jawab! Aku sedang berbaik hati dan mencoba menirukan adegan romatis seprti di film-film dan drama oriental yang sering kamu tonton itu! Kenapa kamu tak bisa merespon dengan baik. Dasar kau! Tak ada sisi manis dan romantisnya sebagai gadis!” sentaknya tak tahan melihatku terdiam saja.
“jahat sekali kamu! Tak ada sisi romantisnya katamu, kejam sekali kamu menghina perempuan. Aku benci padamu...” jawabku marah dan memalingkan wajah darinya.
“ya... marah. Aku tahu, kamu begitu penuh perasaan, mendengar lagu saja sampai menagis, apalagi melihat film kamu seakan bisa ikut mati kalau pemeran utamanya menangis. Tapi...”
“tapi apa?” jawabku memotong kalimatnya.
“tapi, kamu selalu tak bisa memahami jika hal itu benar-benar terjadikan?” jelas Dante.
“ maksudmu? Benar-benar terjadi? Aku mengalaminya maksudmu?” tanyaku tak memahami kata-katanya
“iya. Seperti tadi. Saat aku menyanyikan lagu. Kamu terhanyut. Tapi saat aku katakan dengan yang sedikit romantis, kamu tak merespon dan hanya sedikit mengeluarkan emosi kamu memahami kata-kataku. Atau lebih tepatnya kamu tak ada persaan untuk menjawabnya.” Jelas Dante dengan lemas sekan dunianya berakhir.
“ haha... kau ini. Begitu saja marah. Kalau kamu yang lakukan itu padaku, aku tak akan terhanyut dan malah ingin tertawa melihat ekspresimu. Sudah jangan aneh-aneh. Bigini ya, lagumu behitu bagus. Kamu bisa jaukan lagu itu pada dosenmu dan mulai  embuat melodinya dan saat lagu itu di setujui oleh dosenmu kamu bisa segera lakukan resital dan aku akan membantumu melakukannya. Bagaimana? Aku yakin lagu itu pasti disetujui, karena musiknya sederhana tapi begitu misterius dan membuat orang ingin mengerti klimaksnya. “ aku menghentikan kalimatku. Aku memandangi Dante. Raut wajahnya berubah. Dia tak lagi begitu polos dan penuh senyuman seprti tadi. Sekarang, sekan dia akan menjatuhkan air matanya mendengar ucapanku tadi.
“ada apa?” tanyaku penuh rasa bersalah dan kebingungan. “ada kata-kataku yang salah?” tanyaku begitu tak memahami maksudnya. Dante semakin diam. Dan aku semakin kebingungan. Dan aku ikut terdiam dalam rasa bersalah, dan terus bertanya-tanya adakah kata-kataku yang salah?
“begitukah, begitukah perasaanmu yang sesungguhnya padaku? Begitu dinginnya? Tak adakah sedikitpun rasamu padaku?” jawabnya meleburkan kesunyian yang tercipta sesaat tadi. Aku makin kebingungan mendengar jawabannya.
“tak ada sedikitpun sisi dalam hatimu yang terisi akan diriku? Tak seditkpun? Tak tahukah dirimu, setiap napasku, kuhembuskan hanya untukmu, dan tak sedikitpun dihatiku yang tak inginkan dirimu. Setiap langkahku aku terhenti dan hanya inginkan kamu dan hanya karena mengingatmu aku tak mampu terlelap dalam tidurku, dan juga karenamu jantungku selalu berusaha untuk berdetak. Don’t you know? I’do love love and don’t wanna lose you, now or ever?” dia menghentikan kalimatnya. Dan memandangku penuh rasa sedih, gundah dan rasa tak mampu yang begitu dalam. Matanya nanar seakan akan menangis.
     Aku semakin bingung dan bersalah namun tatap saja aku taka mampu memahami maksud dari perkataannya.Aku makin terdiam, tak sadar aku teteskan air mataku dan pelan-pelan semakin deras-sreas dan semakin deras. Tangisku tak tertahankan dan pecah begitu saja. Ada rasa bingung yang mendalam dihatiku mendengar ucapan Dante. Apakah Dante ada rasa padaku. Tapi dia, dia sahabat terbaikki yang begitu mengerti aku yang begitu sulit untukjatuh cinta dan selalu lama untuk memahanmi perasaan orang lain padaku. Tapi, apa maksud Dante katakan ini padaku. Aku semakin bingung.
“Dante, aku tak mengerti maksudmu. Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya tak mau mengomentari lagumu, dan tak menyukai lagumu meskipun kamu menciptakannya untukku, tapi lagumu memang begitu bagus dan aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku,, aku,, hwa...!” aku tak mampu menahan tangisku lagi. Aku melihat ke wajah Dante dia nampak kebingungan melihatku mengangis dia mengusap matanya, seakan baru saja menagis juga. Wajah Dante berubah menjadi kebingungan sesaat, dan kemudian tertawa begitu lepas.
“ haha... Reva.. Reva... aku tahu dan begitu memahami kalau kamu begitu menyukai laguku. Makanya aku lakukan ini. Ini adalah kometarmu yang begitu aku nantikan. Dengan begini aku begitu percaya diri untuk mengajukan lagu ini pada dosenku. Sudahlah. Berhanti menangis. Pipimu tak menangis sudah seperti kepiting rebus, sekarang kamu menangis malah seperti tomat, jelek sekali tau! Berhenti menangis” dia tertawa sambil mengusap-usapkan pipiku dengan tissue dan tangannya. Dia nampak kelabakan melihatku terus saja menangis tapi terus saja dia mengembangkan senyuman untuk menutupinya.
“apa maksudmu? Kamu membuatku menagis begini HA!!!” tanyaku masih terus saja mengis dan tak mempedulikan pandangan orang-orang di taman yang melihatiku menangis. Peraasnku tak karuan, tapi cukup lega mengetahui Dante hanya mempermainkanku. Menyadari kata-katanya tadi adalah lirik lagu yang baru saja dinyanyikan Dante untukku.
“sudahlah berhenti menangis, aku malu dilihati orang-orang di taman ini. Kamu tak manis jika menangis, hentikan tangisanmu. Reva... ayolah!!!” pinta Dante sambil terus melap pipiku yang semakin basah oleh air mata.
“biar, apa maksudmu? Kau tahu aku tak bisa menahan tangisku kalu sudah begini. Aku ada pertemuan dengan dosenku sebentar lagi dan kamu lakukan ini padaku. Kau membuatku namapak aneh di depan dosenku dengan wajh memerah begini!”jawabku ketus.
“makanya berhentilah menangis. Aku tak tahan melihatmu menangis. Kau tahu...”
“ ya aku tahu, apa yang akan kamu katakan. Aku memang tak tampak manis jika menangis seperti Vyeryn saat menangis di kelas akting lalu. Aku tahu, aku begitu tahu kamu menganggumi wajah apik Vyeryn.” Potongku.
“ nah, itu. Kamu tahu. Jadi berhentilah menangis.” Jawab Dante.
     Aku berusaha menghentikan tangisku. Sedikit sesenggukan. Dante memberiku minum. Dan mengikutiku menuju ruang dosenku. Hari ini aku diminta untuk menemui dosenku untuk membicarakan ujianku. Semester ini aku akan segera aku akhiri dengan menyelesaikan pertunjukan resitalku dengan pemusik lainnya. Dan aku memilih bermain bersama Dante. Tentunya dengan alasan, karena Dante sahabatku yang terbaik, dia mengerti aku lebih dari siapapun, dan yang sanagt penting dia juga akan melakukan ujian yang sama denganku dan sudah memiliki kosnsep lagu yang cukup sesuai denganku juga. Dan yang utamanya aku butuh lagu yang diciptakan Dante karanae aku sedang tak ada perasaan yang bisa membantuku untuk menciptakan lagu yang penuh emosi. Seperti yang diciptakan Dante. Aku bingung, Dante selau bisa menciptakan lagu romantis yang begitu indah, aku tak tahu dia penyu inspirasi dari siapa. Tak heran dia begitu dikagumu begitu banyak gadis di kampus. Tapi, entah mengapa dia malah memilih untuk  bergaul dengan gadis bantet berpipi merah ini.-aku-
     Sesampainya di depan ruangan dosenku. Aku berbalik dan menatap wajah Dante. ”Apa?” tanyanya tersentak melihatku tiba-tiba berbalik. “yakinlah, kau mampu. Ayo masuk.” Dia meyakinkanku.
“bukannya aku tak mampu. Tapi, apakah pi[iku sudah tak merah lagikan? Bagaimana?” aku merapikan diriku.
“sudah. Kau selalu nampak begitu. Itulah dirimu. Jangan pedulikan kata orang” dia memutar badanku dan mendorongku masuk ruangan dosenku.
“tapi ini semua gara-gara kamu. Aku jadi tak karuan.” Jawabku menyalahkannya.
“iya, aku tahu. Aku minta maaf membuatmu menangis sampai tak bisa berhenti.” Pintanya.
     Aku menghentikan langkahku dan memutar badanku menghadap Dante. “anak pintar. Bantu aku ya...” kataku sambil menepuk kepalanya dan mengelus rambutnya merayu. “iya nona. Jawabnya berusaha sopan.
     Saat memasuki ruangan dosenku. Aku cukup kaget, kulihat dua orang disana sedang duduk menyeruput kopi sambil mengobrol. Ada seorang yang nampak masih muda dari belakang sedang mengobrol dengan dosenku. Nampaknya seniorku. Tak aku pedulikan. Aku berusaha menata diriku sebelum menemui dosenku tercinta yang baik hati, ramah namun senyuman dan kata-katanya cukup untuk meruntuhkan mental para mahasiswa bimbingannya. Salah satunya aku.
     Dan benar, itu memang seniorku. Aku akui aku sungguh mengaggumi permainan pianonya. Dan aku pernah menangis tak bisa berhenti mendengarnya memainkan piano. Tapi, apa yang dilakukannya disini. Dia kan seharusnya sudah berada disuatu tempat dengan pianonya dan sejuta bunga dan sanjungan atas permainan dan pertunjukannya tapi, mengapa dia disini? Dan malah mengobrol dengan pak tua ini. Aku sedikit khawatir. Aku menoleh pada Dante. Dia juga nampak bingung, sama sepertiku. Aku menyenggol Dante, isyarat bertanya. Dia hanya mengangangkat pundaknya, tanda tak tahu.
“ya... selamat siang Reva, Dante. Tak perlu aku perkenalkan, dia Romero, kakak kelas kalian yang sangat luar biasa. “ kata dosenku tanpa basa-basi, memang sifatnya. Dan tak berlebihan sih, menyanjung Kak Mero seperti itu, itu hampir sepenuhnya benar, tapi itu  tatap saja mengganggu bagiku yang juga seorang pianis. Tapi aku masih bingung mengapa dia disini. Hal itu tak memberiku petunjuk.
“perlu kalian tahu. Romero adalah asistenku sekarang.” Aku cukup terkejut mendengar itu. Dan perasaanku mulai tak karuan. Aku memegang erat jemari Dante. Dan Dante cukup memahami maksudku dan, beusaha menenangkanku dengan memberi pegangan yang cukup menenangkan.
“dan karena aku harus melakukan lawatan, dan pergi meninggalkan kalian sementara waktu, untuk menggantikanku sementara ini, dia yang akan melatih dan membimbingmu untuk menyelesaikan resitalmu musim ini, dengan kolaborasi gitarmu Dante. Aku rasa pertunjukan kalian akan sangatlah mengesankan.” Kata dosenku sambil mencurahkan sedikit senyuman.
     Perasaanku tak karuan membayangkan apa yang akan terjadi kedepan ini. Mengingat apa yang pernah terjadi diantara kami bertiga, aku, Dante dan kak Romero. Ada sesuatu diantara kami di musim lalu. Mengingat konflik yang terjadi antara Dante dan kak Romero karenaku. Tapi, nampaknya kakhawatiranku juga dirasakan oleh Dante. Namun, dia nampak mampu menanganani kepanikannya tak sepertiku.
“mohon bimbingan dan bantuannya” kata Dante sambil menarik tubuhku dan membungkuk sebagai tanda hormat junior dan senior pada umumnya. Aku yang gugup terpaku mengikuti yang dilakukan Dante.
     Musim lalu, cukup muram bagi kami bertiga. Saat kak Romero tiba-tiba menyatakan cintanya padaku. Namun, aku tak memahami maksudnya, karena kak Romero meyatakannya dengan nyanyian. Sontak aku terhanyut, dan seperti biasa, karena terlalu hanyut aku menangis. Dan kak Romero salah mengartikan maksud dari tangisanku. Dikiranya aku menerima perasaannya. Dan saat itu, tiba-tiba dia memintaku untuk menjadi kakasihnya. Aku yang terlalu bingung dan terlalu banyak menangis tak bisa menjawabnya.
     Dante yang berada disampingku saat itu, seperti biasa. Menjelaskan bahwa aku tak ada perasaan pada kak Romero. Dan hal itu memang benar. Aku memang taka ada perasaan pada Kak Romero. Tapi kak Romero tak mampu menerima perkataan Dante dan malah menonjok Dante, dan menganggap Dante kurang ajar dan cemburu padanya karena menyukaiku. Dikiranya Dante tak merelakan aku untuk berpacaran dengannya. Karena Dante dikiranya menyukaiku juga. Meskipun kenyataannya tidak begitu. Jadilah mereka bertengkar siang itu di ruang latihan  karena aku yang hanya bisa menangis saja.
     Siang itu, cukup meneganggangkan seingatku, kami bertiga di bawa keruangan yang cukup tertutup dibelakang ruang latian. Aku tak ingat ruangan apa itu. Disana kami bertiga disuruh untuk menyelesaikan masalah kami. Aku ingat sekali hari itu menjadi hari yang begitu lama karena mereka menunggu jawabanku tentang apa yang tengah terjadi. Tapi, menjadi begitu lama karena harus menungguku berhenti menangis. Seperti biasa, begitu lama, seperti siang ini. Rasanya siang ini aku ingin menangis lagi mengingat kejadian hari itu. Dan, nampaknya Dante tahu. Dia mencoba menenangkanku, membuatku mampu berdiri menghadapi dosen dan seniorku ini siang ini.
“Reva, katakan apa yang ingin kamu katakan jangan menangis saja. Jelaskan semua yang terjadi.” Pinta Kak Romero padaku. Dia mengucapkannya berulang-ulang. Sambil memandang penuh kebencian ke arah Dante. Hal itu membuatku takut mereka akan bertengkar lagi. Dan Dante yang tak suka bertengkar pasti hanya akan menghindari pukulan yang diberikan kak Romero jika ia memukul dan tak akan memukul balas. Sejauh yang aku tahu, Dante hanya pernah memukul seorang lelaki yang tak dikenal dipantai pada semester awal kami bertemu dulu. Itupun setelah aku yang terkena pukul karena berusaha menjauhkan lelaki itu dari Dante. Melihat aku jatuh tersungkur barulah Dante mau memukul balas lelaki itu. Kak Romero yang tak memahami aku dan Dante yang terus saja diam, dia sedikit geram dan nampak begitu marah. Dia tak sabar ingin mendengar aku meluruskan masalah ini.
     Dante hanya terdiam. Dia melap pipiku dengan jemari dan tissue seperti biasa. Dia paham aku tak akan bisa bicara samapai bisa menahan diriku untuk tak menangis. Jadilah dia hanya menenangkanku dengan menghapus air mataku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kupandangi Dante. Bibirnya berdarah bekas tonjokan. Tapi dia tak menghiraukannya. Dan malah membersihkan air mataku. Setelah sekian lama dia terdiam dan memandangiku, dia mengucapakan sesuatu “sudah?” tanyanya padaku yang mulai tenang. Aku hanya mengangguk. Dan mulai membuka mulut.
“ma, maaf kak Romero...” uacapku terbata sambil meminta ijin bicara dengan anggukan pada dosen yang mendampingi kami saat itu. Dosenku hanya mengangguk memberi isyarat untuk meberiku kesempatan untuk bicara.
“yang dikatakan Dante pada kakak mengenai aku tadi, adalah benar. Aku memang tak ada perasaan pada kakak. Dan masalah aku menagis saat kakak menyanyikan lagu tadi untukku, yang dikatakan Dante bahwa itu hanya karena aku ternhanyut dalam lagu itu dan tak ada persaan padamu adalah benar.” Mendengar kalimatku tadi, wajah kak Romero memerah nampak begitu malu. Dia tak lagi nampak marah. Dia malah nampak bagitu malu. Tak heran jika dia malu menurutku, seorang Romero yang saat itu begitu dipuja banyak gadis di kampus ditolak saat menyatakan cinta pada juniornya, yang tak nampak cantik, dan malah bantet dan bentuknya tak karuan-aku-. Ditambah lagi, dia mengotori tangan emasnya yang ia gunakan untuk memainkan piano yang menaikkan citranya untuk menonjok seseorang, dia begitu malu saat itu. Dan perlu tahu, berita semacam ini akan mudah tersebar dan menjatuhkan citra kak Romero.
“benarkah? Jika begitu aku mohon maaf. Terutama padamu Dante.” Ucap kak Romero. Dante hanya mengangguk. Dan dosenku meluruskan semua masalahnya. Kami bersalaman dan bergegas keluar dari ruangan itu. Dante tak mengeluarkan sepatah katapun. Setelah dari ruangan itu aku mengajak Dante duduk di bawah sebuah pohon. Di taman, tempat Dante menungguku siang ini. Aku membersihkan lukanya. Dan Dante benar-benar tak mengatakan apapun. Hal itu membuatku khawatir. Aku juga tak berani memulai pembicaraan saat itu, jadilah aku tetap diam.
“kau tak apa?” tanya Dante sambil memandangku. Aku terkejut mendengarnya mulai bicara. Tak mau merusak kalimatnya, aku hanya menggeleng.
“sungguh?” tanyanya lagi meyakinkan dirinya dan aku. “ sungguh.” Kataku mencoba memperjelas.
“maafkan aku,” jawabnya lagi. Aku cukup bingung, mendengar Dante meminta maaf. Sejauh yang aku tahu, seharusnya yang minta maaf adalah aku. Karena aku, dia jadi sasaran tonjokan kak Romero. Tapi, kini dia yang malah minta maaf, jadilah aku makin bingung.
“maafkan aku, karena aku lancang menjawab pertanyaan kan Romero padamu tadi. Aku tak tahan melihatmu jadi perhatian orang banyak seperti itu saat kamu mengis seperti tadi. Jadi aku berusaha untuk menghindarkanmu dari perhatian orang, tapi kamu malah jadi sasaran perhatian orang aku sungguh minta maaf padamu.” Jelasnya padaku
“ha? Seharusnya aku yang minta maaf, karena kebiasaan burukku yang selalu saja menangis dan tak bisa menahan tangisanku membuatmu jadi sasaran tonjokan. Aku minta maaf dan juga berterima kasih karena membantuku untuk mengucapkan maksudku, karena jujur seandainya aku tak menagis sekalipun, aku tahu aku tak akan mampu menjawab permintaan kak Romero.” Jelasku lagi
“kamu tak apa? Lukamu?” tanyaku
“tak apa. Sekarang... aku hanya...”
“kenapa? Kamu merasa sakit? Dimana? Kita perlu ke klinik? Ayo aku antar?” tanya ku panik.
“tidak, aku tak perlu ke klinik aku hanya...” dia tak menyelesaikan kalimatnya, Dante hanya memegangi perutnya.
“kau lapar?” tanyaku melihatnya memegangi perutnya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. “ Dasar kau ini!” menyeru padanaya. Akhirnya kami berjalan ke kantin berdua sambil  bercanda dan berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi.
     Keesokannya, aku berjanji menemui Dante di kantin untuk mentraktirnya lagi hari itu setelah kelasku usai. Selama berjalan menuju kantin aku dipandangi begitu banyak orang. Banyak yang sudah mendengar berita kejadian kemarin itu. Berita memang cepat menyebar. Banyak yang memandangku sinis. Begitu membenciku. Aku dicap orang yang sok sejak hari itu, karena aku menolak seorang pangeran pianis di kampus. Gadis-gadis di kampus begitu tak menyukaiku sejak itu.
     Kak Romero juga menghindariku terus. Dan untungnya aku punya Dante yang selalu menemaniku karena tak ada seorangpun yang mau berteman padaku, hanya beberapa gadis yang tak peduli pada popularitas yang mau berteman denganku. Itulah sebabya Dante adalah segalanya bagiku. Karena meski kami berbeda divisi kelas, dia selalu berusaha menemani dan membantuku.
     Aku masih melamun mengingat masa lalu itu, dan begitu takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Dengan segala kemungkinan karena masa lalul ini. Aku bertanya-tanya mengapa seniorku ini mau meneriam untuk jadi pembimbingku. Mengingat apa yang pernah aku lakukan padanya.
“iya, aku akan membimbing kalian di sisa semester ini, selama prof. Froza pergi. Aku harap kalian dapat menerima bimbinganku dengan baik. Aku juga mohon bantuan kalian karena ini tugas pertamaku sebagai assisten dari prof. Froza.” Kata kak Romero sambil mempersilahkan kami menegakkan punggung kami. Dia tersenyum padaku dan Dante. Tapi, senyuman itu mebuatku semakin merasa takut. Dan aku hanya berharap dia benar-benar akan membimbing kami dengan baik. Juga mampu melupakan masa lalu yang cukup membuatnya malu saat itu, aku harap dia  membangun atmosfer yang baru sebagai senior dan junior yang baik saat membimbing kami nanti dan tak mengingat masalah lalu itu sedikitpun.
     Dante menyenggolku, menyadarkanku dari keterpakuanku akan keadaan yang tengah terjadi dan mengisyaratkanku untuk mengatakan sesuatu agar tak tak terjadi suasana yang kaku. Tapi, aku begitu bingung mau mengatakan apa.
“ baiklah, aku ada urusan lain. Kalian mulai saja latihan hari ini. Aku tinggal. Silahkan Romero.” Ucap dosenku memecah ketegangan.
“terima kasih prof, hati-hati dijalan. Sampai jumpa lagi” ucap kak Romero menghantarkan kepergian dosenku kedepan pintu.
“apa yang harus aku lakukan? Mengapa harus begini?” tanyaku panik pada Dante.
“sudah, santai saja. Hadapi saja. Cuma latihan dan bimbingannya yang kita butuhkan. Aku tak peduli dengan apa yang pernah terjadi aku juga sudah berusaha melupakannya. SMILE!!!” Dante mencoba menghiburku.
“aaaahhh, lepaskan! Iya-iya aku tahu...” kalimatku berhenti melihat kak Romero masuk ruangan.
“ayo,, kita mulai latihan hari ini. Dan aku harap kamu bisa segera fokus dan tak terlalu terhanyut kedalam cerita lagunya tapi bisa terhanyut dan masuk dalam musiknya ya Reva”  ucap kak Romero memulai latihan hari itu.
“iya kak,” jawabku.
“lagu apa yang akan kalian bawakan? Lagumukan Dante?” tanya kak Romero
“iya... ini lagunya. Dan ini demonya.” Jawab Dante berusaha bersikap senormal mungkin sambil mengabaikan apa yang pernah terjadi.
“kalian tak perlu kaku seperti itu. Kita lupakan saja yang pernah terjadi dan membuka lembaran baru.” Kata kak Romero sambil membaca sheet yang diberikan Dante. Kalimat itu cukup membuatku kaget. Dan sedikit melegakan karena salah satu ketakutanku ternyata cukup diterima dan diapahami dengan baik. Jadi aku tak perlu menahannya.
“benarkan Dante, dan, aku rasa aku tak perlu mendengar demo lagumu. Kalian bisa mulai memainkannya sekarang.” Siang itu, meski sedikit mengagetkan dan aku cukup terkejut. Semua berjalan cukup lancar. Latihannya juga. Kami sedikit gugup memang, tapi semua bisa teratasi. Dan beruntungnya lagi. Siang itu juga, lagu kami diterima oleh dosen Dante. Dan jadilah kami membawakan lagu itu untuk resital kami musim ini. Dibawah bimbingan kakak senior yang sempat membenci kami. Siang yang tak terduga. Dan hal itu membuatku begitu lapar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar