kesempatan ini, gak tahu kenapa kok kepikiran sama film-film romantis yang habis diliat kemarin. jadi kepikiran buat sesuatu yang berkesan dari kisah kemarin-kemarin. jadilah tercipta cerpen gak jelas ini. semoga sedikit berkesan deh buat yang baca. tapi khusus, aku ucapain happy birthday buat yang lahir 15/08 cerpen ini buat kamu ... selamat membaca...
Siang itu
Siang itu, aku memutuskan untuk
segera menemui sahabatku tercinta. Dante. Kami janji bertemu ditaman depan
ruangan latihan kami untuk membahas lagu yang akan kami gunakan untuk resital
musim ini. Karena latian perpaduan dan pemilihan pasangan sudah kami lakukan.
Jadi tinggal menetukan lagunya. Dante bermaksud emabuat suatu yang berbeda
dengan menyanyikan lagunya sendiri. Dan katanya dia menciptakan lagu itu khusus
untukku. Biasa bagiku. Karena memang begitulah Danteku tersayang. Sahabatku
yang begitu baik, dan selalu menyelamatkan aku dari kesendirian karena
kebaodohanku dalam bergaul sejak awal kami bertemu di kampus ini 3 tahun yang
lalu.
Aku berlari menuju taman, karena aku
tahu Dante akan marah jika aku datang kebih dari 3 menit lagi. Karena aku
memang benar-benar terlambat siang ini. Dan dugaanku benar. Dia sudah terbaring
diatas rerumputan dibawah pohon disamping gitarnya. Dante pasti sudah
menungguku begitu lama. Aku mempercepat langkahku. Tapi tetap saja...
“hallo nona... kesiangan lagi? Hobi
sekali anda membuat saya menunggu anda.” Sapa Dante menyindirku. Dan aku rasa
dia sedikit kesal padaku karena bahasanya begitu formal.
“maaf tuan... saya sungguh-sungguh
minta maaf.” Pintaku sambil menyatukan jariku memohon maaf. Aku raih gitar Dante.
Mengeluarkannya dari tasnya dan memberikannya dengan penuh kesopanan dan
senyuman lebar untuk merayunya.
“nyanyikan saja” pintaku manja pada Dante.
Dia merubah ekspresinya. Manjadi begitu kesal. Dia rebah lagi kererumputan.
Sambil menghela napas panjang.
“tak mau!” katanya. “aku jadi ngantuk
sekarang. Dengarkan saja demonya. Aku mau tidur sebentar sambil menunggu waktu.
“ayolah... aku sungguh-sungguh minta
maaf karena terlambat. Sekarang, bernyanyi ya...” rayuku memintanya memainkan
gitar. “ayolah...” pintaku lagi sambil mengoyak-oyak badannya untuk memintanya
bangun.
Dante duduk, dia menatapku
lekat-lekat. Lalu mencubit pipiku keras. Aku yang kesakitan berusaha melepaskan
cubitan itu. Namun tak berhasil. Jadilah aku pasrah menunggunya puas mencubit
pipiku.
“hentikan... pipiku sakit. Makin merah
nanti.” Pintaku sambil mencoba melepaskan cubitan itu.
“bisakah? Bisakah kamu nberhenti
membuat aku menunggumu? Aku lelah tau. Aku tak akan menunggumu lagi setelah
ini. Dan setelah resital ini aku tak mau menunggumu lagi. Paham?” sambil
memperkuat cubitannya dan kemuadian melepaskannya.
“iya,iya aku tahu. Maaf. Sekarang
nyanyi ya?”pintaku lagi. Kuberikan gitarnya dengan memasang wajah sok manis.
“iya.iya. kasih komentar yang jujur
setelahnya. Biar nanti resital jadinya bagus. Kan kita mainnya berdua. Kalau ada
bagian yang gak kamu suka, katakan! Mengerti? “ tanyanya
“iya.” Jawabku singkat
Dante
memainkan lagunya. Dia mulai memetik dawai gitarnya. Aku mencoba fokus. Dan memahami
lagunya. Kudengarkan dengan seksama. Aku mulai terhanyut. Membayangkan Dante
dalam situasi seperti dilirik itu. Dia meminta gadisnya untuk tetap berada
disampingnya. Dan menjelaskan betapa pentingnya gadis itu bagi Dante. Akan tetapi
gadis itu tak memahami maksud Dante dan Dante hanya menyimpan perasaannya
sambil melindungi dan mengaharapkan gadis itu selalu ada bersamanya juga tak
ingin kehilangan gadis itu.
Bukan
tipe Dante menurutku, menanti seorang gadis sampai seperti itu. Mengingat kebiasaan
Dante yang suka menggoda gadis-gadis di kampus dan Dante adalah cowok yang
lumayan polpuler dikampus karena kemampuannya menciptakan lagu, yang kadang
diamanfaatkannya untuk menggoda gadis-gadis. Tapi sudahlah, itu kisah Dante. Yang
pentinga lagunya. Aku mulai terhanyut. Tak heran Dante menjadi idola. Lagunya benar-benar
bagus.
Saat mendengar lagu itu, aku membatu.
Badanku kaku, seakan dingin tak hidup. Berlebihan? Mungkin. Tapi hal itulah
yang aku benar-benar aku rasakan saat mendengar Dante memainkan lagu
ciptaannya. Dia menciptakan lagu itu untukku katanya. Dan aku sungguh-sungguh
terkagum-kagum mendengar lagu itu. Tanpa aku sadari aku benar-benar terhanyut
mendengar lagu itu, hingga tak menyadari Dante telah memetik dawai terakahir
dari gitarnya yang melengking memebuyarkan lamunanku.
“bagaimana???” tanya Dante. Aku hanya
terdiam tak menjawab. Dante memandangiku. Menatapku, dan tiba-tiba tersenyum.
Sambil tersenyum manis dianberseru padaku “hallo,,, nona ayo kembali turun, dan
tapaki bumi. Jangan terbang terlalu lama. Bagaimana menurutmu laguku? Kau
sampai terpana seperti itu. Berkomentarlah!”.
Aku tergagap, hampir terjungkir dari
kursiku. “iiiya... bagus sekali. Aku sampai terpaku”. Dante seakan tak puas
dengan jawabanku. Dia kembali memandangiku dan terus menjelajahiku seakan
mencari-carisesuatu yang sangat penting miliknya. Aku jadi salah tingkah
sendiri melihatnya mencari-cari sesuatu pada diriku.
“ada apa? Ada sesuatu pada diriku? Pandanganmu
cukup menggangguku. Cepat hentikan!” tanyaku yang sudah tak tahan diinterogasi
secar batin oleh pandangannya.
“tak ada sesuatu pada wajahmu. Tapi
ada yang aneh.” Jawabnya setelah mengubah pandangannya dan meletakkan gitarnya.
“apa? Apa yang aneh dariku?” tanyaku
juga bingung sendiri.
“aku tahu. Setiap kau mendengarkan
sebuah lagu, kamu pasti akan terbang sendirian ke dalam duniamu. Tapi, hari ini
berbeda. Kau sampai menangis dan terjatuh terlalu jauh pada laguku.” Kata Dante
menjelaskan.
“mungkin itu karena lagumu terlalu
bagus. Sampai aku begitu terhanyut.” Kataku lagi sambil meraih gitar yang
diletakan Dante diantara kami. Dan, menutup kata-kataku dengan senyuman. Tapi,
dengan tiba-tiba Dante meraih gitar itu dari palukanku, hingga aku hampir
terjatuh karena dudukku yang belum seimbang setelah meraih gitar.
“bohong! Kamu menyembunyikan sesuatu
dariku. Katakan! Sekarang juga katakan! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan
dariku. Katakan sekarang juga dengan jujur!” seru Dante dengan nada menelisik
sambil memegangi gagang gitar yang aku peluk sambil menekankan pandangannya
padaku penuh curiga. “ cepat! Katakan!” katanya memaksa lagi.
“apa? Apa yang aku sembunyikan? Tak
ada.” Jawabku sambil menarik gitar dan menatanya dipangkuanku, mulai memetik
senarnya secara acak tak karuan.
“itukan! Kamu menyembunyikan sesuatu
dariku. Kamu tak bisa bohong dariku. Begitu gugupnya sampai bingung tak bisa
memainkan gitar dengan benar. Katakan sajalah...” jawabnya penuh kenggaan
seakan menemukan harta karun dari sikapku sambil melipat tangannya.
“terserah padamu. Aku tak ada rahasia
yang perlu aku katakan.” Jawabku ketus dan mulai memainkan gitar secara tak
karuan.
“ya sudah kalau tak mau katakan.
Aahhh... tapi hentikan permainanmu yang merusak telinga itu. Dan berikan
komentar pada laguku.” Dante menagih jawabanku. Dia memandangku menanti
jawabanku. Dia memegang gitar itu dan meraihnya dariku. “ bagaimana?” desaknya
tak sabar. Tiba-tiba dia berlutut di hadapanku sambil memeluk gitar dan
memasang wajah begitu sopan, “bagaimana nona? Lagu yang aku persembahkan
untukmu? Indahkah? “ tanyanya penuh senyuman. Dia begitu mengharapkan
jawabanku. “nona? Bagaimana?...” aku tetap saja terdiam dan tak menjawab dan
hanya memandnagi wajahnya. “Ya! Cepatlah jawab! Aku sedang berbaik hati dan
mencoba menirukan adegan romatis seprti di film-film dan drama oriental yang
sering kamu tonton itu! Kenapa kamu tak bisa merespon dengan baik. Dasar kau!
Tak ada sisi manis dan romantisnya sebagai gadis!” sentaknya tak tahan
melihatku terdiam saja.
“jahat sekali kamu! Tak ada sisi
romantisnya katamu, kejam sekali kamu menghina perempuan. Aku benci padamu...”
jawabku marah dan memalingkan wajah darinya.
“ya... marah. Aku tahu, kamu begitu
penuh perasaan, mendengar lagu saja sampai menagis, apalagi melihat film kamu
seakan bisa ikut mati kalau pemeran utamanya menangis. Tapi...”
“tapi apa?” jawabku memotong
kalimatnya.
“tapi, kamu selalu tak bisa memahami
jika hal itu benar-benar terjadikan?” jelas Dante.
“ maksudmu? Benar-benar terjadi? Aku
mengalaminya maksudmu?” tanyaku tak memahami kata-katanya
“iya. Seperti tadi. Saat aku
menyanyikan lagu. Kamu terhanyut. Tapi saat aku katakan dengan yang sedikit
romantis, kamu tak merespon dan hanya sedikit mengeluarkan emosi kamu memahami
kata-kataku. Atau lebih tepatnya kamu tak ada persaan untuk menjawabnya.” Jelas
Dante dengan lemas sekan dunianya berakhir.
“ haha... kau ini.
Begitu saja marah. Kalau kamu yang lakukan itu padaku, aku tak akan terhanyut
dan malah ingin tertawa melihat ekspresimu. Sudah jangan aneh-aneh. Bigini ya,
lagumu behitu bagus. Kamu bisa jaukan lagu itu pada dosenmu dan mulai embuat melodinya dan saat lagu itu di setujui
oleh dosenmu kamu bisa segera lakukan resital dan aku akan membantumu
melakukannya. Bagaimana? Aku yakin lagu itu pasti disetujui, karena musiknya
sederhana tapi begitu misterius dan membuat orang ingin mengerti klimaksnya. “
aku menghentikan kalimatku. Aku memandangi Dante. Raut wajahnya berubah. Dia
tak lagi begitu polos dan penuh senyuman seprti tadi. Sekarang, sekan dia akan
menjatuhkan air matanya mendengar ucapanku tadi.
“ada apa?” tanyaku penuh
rasa bersalah dan kebingungan. “ada kata-kataku yang salah?” tanyaku begitu tak
memahami maksudnya. Dante semakin diam. Dan aku semakin kebingungan. Dan aku
ikut terdiam dalam rasa bersalah, dan terus bertanya-tanya adakah kata-kataku
yang salah?
“begitukah, begitukah
perasaanmu yang sesungguhnya padaku? Begitu dinginnya? Tak adakah sedikitpun
rasamu padaku?” jawabnya meleburkan kesunyian yang tercipta sesaat tadi. Aku
makin kebingungan mendengar jawabannya.
“tak ada sedikitpun
sisi dalam hatimu yang terisi akan diriku? Tak seditkpun? Tak tahukah dirimu,
setiap napasku, kuhembuskan hanya untukmu, dan tak sedikitpun dihatiku yang tak
inginkan dirimu. Setiap langkahku aku terhenti dan hanya inginkan kamu dan
hanya karena mengingatmu aku tak mampu terlelap dalam tidurku, dan juga
karenamu jantungku selalu berusaha untuk berdetak. Don’t you know? I’do love
love and don’t wanna lose you, now or ever?” dia menghentikan kalimatnya. Dan
memandangku penuh rasa sedih, gundah dan rasa tak mampu yang begitu dalam.
Matanya nanar seakan akan menangis.
Aku semakin bingung dan bersalah namun
tatap saja aku taka mampu memahami maksud dari perkataannya.Aku makin terdiam,
tak sadar aku teteskan air mataku dan pelan-pelan semakin deras-sreas dan
semakin deras. Tangisku tak tertahankan dan pecah begitu saja. Ada rasa bingung
yang mendalam dihatiku mendengar ucapan Dante. Apakah Dante ada rasa padaku.
Tapi dia, dia sahabat terbaikki yang begitu mengerti aku yang begitu sulit
untukjatuh cinta dan selalu lama untuk memahanmi perasaan orang lain padaku.
Tapi, apa maksud Dante katakan ini padaku. Aku semakin bingung.
“Dante, aku tak mengerti
maksudmu. Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya tak mau mengomentari lagumu,
dan tak menyukai lagumu meskipun kamu menciptakannya untukku, tapi lagumu
memang begitu bagus dan aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku sungguh-sungguh
minta maaf. Aku,, aku,, hwa...!” aku tak mampu menahan tangisku lagi. Aku
melihat ke wajah Dante dia nampak kebingungan melihatku mengangis dia mengusap
matanya, seakan baru saja menagis juga. Wajah Dante berubah menjadi kebingungan
sesaat, dan kemudian tertawa begitu lepas.
“ haha... Reva.. Reva...
aku tahu dan begitu memahami kalau kamu begitu menyukai laguku. Makanya aku
lakukan ini. Ini adalah kometarmu yang begitu aku nantikan. Dengan begini aku
begitu percaya diri untuk mengajukan lagu ini pada dosenku. Sudahlah. Berhanti
menangis. Pipimu tak menangis sudah seperti kepiting rebus, sekarang kamu
menangis malah seperti tomat, jelek sekali tau! Berhenti menangis” dia tertawa
sambil mengusap-usapkan pipiku dengan tissue dan tangannya. Dia nampak
kelabakan melihatku terus saja menangis tapi terus saja dia mengembangkan
senyuman untuk menutupinya.
“apa maksudmu? Kamu
membuatku menagis begini HA!!!” tanyaku masih terus saja mengis dan tak
mempedulikan pandangan orang-orang di taman yang melihatiku menangis. Peraasnku
tak karuan, tapi cukup lega mengetahui Dante hanya mempermainkanku. Menyadari
kata-katanya tadi adalah lirik lagu yang baru saja dinyanyikan Dante untukku.
“sudahlah berhenti
menangis, aku malu dilihati orang-orang di taman ini. Kamu tak manis jika
menangis, hentikan tangisanmu. Reva... ayolah!!!” pinta Dante sambil terus
melap pipiku yang semakin basah oleh air mata.
“biar, apa maksudmu? Kau
tahu aku tak bisa menahan tangisku kalu sudah begini. Aku ada pertemuan dengan
dosenku sebentar lagi dan kamu lakukan ini padaku. Kau membuatku namapak aneh
di depan dosenku dengan wajh memerah begini!”jawabku ketus.
“makanya berhentilah menangis.
Aku tak tahan melihatmu menangis. Kau tahu...”
“ ya aku tahu, apa yang
akan kamu katakan. Aku memang tak tampak manis jika menangis seperti Vyeryn
saat menangis di kelas akting lalu. Aku tahu, aku begitu tahu kamu menganggumi
wajah apik Vyeryn.” Potongku.
“ nah, itu. Kamu tahu.
Jadi berhentilah menangis.” Jawab Dante.
Aku berusaha menghentikan tangisku. Sedikit
sesenggukan. Dante memberiku minum. Dan mengikutiku menuju ruang dosenku. Hari
ini aku diminta untuk menemui dosenku untuk membicarakan ujianku. Semester ini
aku akan segera aku akhiri dengan menyelesaikan pertunjukan resitalku dengan
pemusik lainnya. Dan aku memilih bermain bersama Dante. Tentunya dengan alasan,
karena Dante sahabatku yang terbaik, dia mengerti aku lebih dari siapapun, dan
yang sanagt penting dia juga akan melakukan ujian yang sama denganku dan sudah
memiliki kosnsep lagu yang cukup sesuai denganku juga. Dan yang utamanya aku
butuh lagu yang diciptakan Dante karanae aku sedang tak ada perasaan yang bisa
membantuku untuk menciptakan lagu yang penuh emosi. Seperti yang diciptakan Dante.
Aku bingung, Dante selau bisa menciptakan lagu romantis yang begitu indah, aku
tak tahu dia penyu inspirasi dari siapa. Tak heran dia begitu dikagumu begitu
banyak gadis di kampus. Tapi, entah mengapa dia malah memilih untuk bergaul dengan gadis bantet berpipi merah
ini.-aku-
Sesampainya di depan ruangan dosenku. Aku
berbalik dan menatap wajah Dante. ”Apa?” tanyanya tersentak melihatku tiba-tiba
berbalik. “yakinlah, kau mampu. Ayo masuk.” Dia meyakinkanku.
“bukannya aku tak
mampu. Tapi, apakah pi[iku sudah tak merah lagikan? Bagaimana?” aku merapikan
diriku.
“sudah. Kau selalu
nampak begitu. Itulah dirimu. Jangan pedulikan kata orang” dia memutar badanku
dan mendorongku masuk ruangan dosenku.
“tapi ini semua
gara-gara kamu. Aku jadi tak karuan.” Jawabku menyalahkannya.
“iya, aku tahu.
Aku minta maaf membuatmu menangis sampai tak bisa berhenti.” Pintanya.
Aku menghentikan langkahku dan memutar
badanku menghadap Dante. “anak pintar. Bantu aku ya...” kataku sambil menepuk
kepalanya dan mengelus rambutnya merayu. “iya nona. Jawabnya berusaha sopan.
Saat memasuki ruangan dosenku. Aku cukup
kaget, kulihat dua orang disana sedang duduk menyeruput kopi sambil mengobrol.
Ada seorang yang nampak masih muda dari belakang sedang mengobrol dengan
dosenku. Nampaknya seniorku. Tak aku pedulikan. Aku berusaha menata diriku
sebelum menemui dosenku tercinta yang baik hati, ramah namun senyuman dan
kata-katanya cukup untuk meruntuhkan mental para mahasiswa bimbingannya. Salah
satunya aku.
Dan benar, itu memang seniorku. Aku akui
aku sungguh mengaggumi permainan pianonya. Dan aku pernah menangis tak bisa
berhenti mendengarnya memainkan piano. Tapi, apa yang dilakukannya disini. Dia
kan seharusnya sudah berada disuatu tempat dengan pianonya dan sejuta bunga dan
sanjungan atas permainan dan pertunjukannya tapi, mengapa dia disini? Dan malah
mengobrol dengan pak tua ini. Aku sedikit khawatir. Aku menoleh pada Dante. Dia
juga nampak bingung, sama sepertiku. Aku menyenggol Dante, isyarat bertanya.
Dia hanya mengangangkat pundaknya, tanda tak tahu.
“ya... selamat
siang Reva, Dante. Tak perlu aku perkenalkan, dia Romero, kakak kelas kalian
yang sangat luar biasa. “ kata dosenku tanpa basa-basi, memang sifatnya. Dan tak
berlebihan sih, menyanjung Kak Mero seperti itu, itu hampir sepenuhnya benar,
tapi itu tatap saja mengganggu bagiku
yang juga seorang pianis. Tapi aku masih bingung mengapa dia disini. Hal itu
tak memberiku petunjuk.
“perlu kalian
tahu. Romero adalah asistenku sekarang.” Aku cukup terkejut mendengar itu. Dan
perasaanku mulai tak karuan. Aku memegang erat jemari Dante. Dan Dante cukup
memahami maksudku dan, beusaha menenangkanku dengan memberi pegangan yang cukup
menenangkan.
“dan karena aku
harus melakukan lawatan, dan pergi meninggalkan kalian sementara waktu, untuk
menggantikanku sementara ini, dia yang akan melatih dan membimbingmu untuk
menyelesaikan resitalmu musim ini, dengan kolaborasi gitarmu Dante. Aku rasa
pertunjukan kalian akan sangatlah mengesankan.” Kata dosenku sambil mencurahkan
sedikit senyuman.
Perasaanku tak karuan membayangkan apa yang
akan terjadi kedepan ini. Mengingat apa yang pernah terjadi diantara kami
bertiga, aku, Dante dan kak Romero. Ada sesuatu diantara kami di musim lalu.
Mengingat konflik yang terjadi antara Dante dan kak Romero karenaku. Tapi,
nampaknya kakhawatiranku juga dirasakan oleh Dante. Namun, dia nampak mampu
menanganani kepanikannya tak sepertiku.
“mohon bimbingan
dan bantuannya” kata Dante sambil menarik tubuhku dan membungkuk sebagai tanda
hormat junior dan senior pada umumnya. Aku yang gugup terpaku mengikuti yang
dilakukan Dante.
Musim lalu, cukup muram bagi kami bertiga.
Saat kak Romero tiba-tiba menyatakan cintanya padaku. Namun, aku tak memahami
maksudnya, karena kak Romero meyatakannya dengan nyanyian. Sontak aku
terhanyut, dan seperti biasa, karena terlalu hanyut aku menangis. Dan kak
Romero salah mengartikan maksud dari tangisanku. Dikiranya aku menerima perasaannya.
Dan saat itu, tiba-tiba dia memintaku untuk menjadi kakasihnya. Aku yang
terlalu bingung dan terlalu banyak menangis tak bisa menjawabnya.
Dante yang berada disampingku saat itu,
seperti biasa. Menjelaskan bahwa aku tak ada perasaan pada kak Romero. Dan hal
itu memang benar. Aku memang taka ada perasaan pada Kak Romero. Tapi kak Romero
tak mampu menerima perkataan Dante dan malah menonjok Dante, dan menganggap Dante
kurang ajar dan cemburu padanya karena menyukaiku. Dikiranya Dante tak
merelakan aku untuk berpacaran dengannya. Karena Dante dikiranya menyukaiku
juga. Meskipun kenyataannya tidak begitu. Jadilah mereka bertengkar siang itu
di ruang latihan karena aku yang hanya
bisa menangis saja.
Siang itu, cukup meneganggangkan seingatku,
kami bertiga di bawa keruangan yang cukup tertutup dibelakang ruang latian. Aku
tak ingat ruangan apa itu. Disana kami bertiga disuruh untuk menyelesaikan
masalah kami. Aku ingat sekali hari itu menjadi hari yang begitu lama karena
mereka menunggu jawabanku tentang apa yang tengah terjadi. Tapi, menjadi begitu
lama karena harus menungguku berhenti menangis. Seperti biasa, begitu lama,
seperti siang ini. Rasanya siang ini aku ingin menangis lagi mengingat kejadian
hari itu. Dan, nampaknya Dante tahu. Dia mencoba menenangkanku, membuatku mampu
berdiri menghadapi dosen dan seniorku ini siang ini.
“Reva, katakan apa
yang ingin kamu katakan jangan menangis saja. Jelaskan semua yang terjadi.” Pinta
Kak Romero padaku. Dia mengucapkannya berulang-ulang. Sambil memandang penuh
kebencian ke arah Dante. Hal itu membuatku takut mereka akan bertengkar lagi. Dan
Dante yang tak suka bertengkar pasti hanya akan menghindari pukulan yang
diberikan kak Romero jika ia memukul dan tak akan memukul balas. Sejauh yang
aku tahu, Dante hanya pernah memukul seorang lelaki yang tak dikenal dipantai
pada semester awal kami bertemu dulu. Itupun setelah aku yang terkena pukul
karena berusaha menjauhkan lelaki itu dari Dante. Melihat aku jatuh tersungkur
barulah Dante mau memukul balas lelaki itu. Kak Romero yang tak memahami aku
dan Dante yang terus saja diam, dia sedikit geram dan nampak begitu marah. Dia tak
sabar ingin mendengar aku meluruskan masalah ini.
Dante hanya terdiam. Dia melap pipiku
dengan jemari dan tissue seperti biasa. Dia paham aku tak akan bisa bicara
samapai bisa menahan diriku untuk tak menangis. Jadilah dia hanya menenangkanku
dengan menghapus air mataku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kupandangi Dante.
Bibirnya berdarah bekas tonjokan. Tapi dia tak menghiraukannya. Dan malah
membersihkan air mataku. Setelah sekian lama dia terdiam dan memandangiku, dia
mengucapakan sesuatu “sudah?” tanyanya padaku yang mulai tenang. Aku hanya
mengangguk. Dan mulai membuka mulut.
“ma, maaf kak
Romero...” uacapku terbata sambil meminta ijin bicara dengan anggukan pada
dosen yang mendampingi kami saat itu. Dosenku hanya mengangguk memberi isyarat
untuk meberiku kesempatan untuk bicara.
“yang dikatakan Dante
pada kakak mengenai aku tadi, adalah benar. Aku memang tak ada perasaan pada
kakak. Dan masalah aku menagis saat kakak menyanyikan lagu tadi untukku, yang
dikatakan Dante bahwa itu hanya karena aku ternhanyut dalam lagu itu dan tak
ada persaan padamu adalah benar.” Mendengar kalimatku tadi, wajah kak Romero
memerah nampak begitu malu. Dia tak lagi nampak marah. Dia malah nampak bagitu
malu. Tak heran jika dia malu menurutku, seorang Romero yang saat itu begitu
dipuja banyak gadis di kampus ditolak saat menyatakan cinta pada juniornya,
yang tak nampak cantik, dan malah bantet dan bentuknya tak karuan-aku-. Ditambah
lagi, dia mengotori tangan emasnya yang ia gunakan untuk memainkan piano yang
menaikkan citranya untuk menonjok seseorang, dia begitu malu saat itu. Dan perlu
tahu, berita semacam ini akan mudah tersebar dan menjatuhkan citra kak Romero.
“benarkah? Jika begitu
aku mohon maaf. Terutama padamu Dante.” Ucap kak Romero. Dante hanya
mengangguk. Dan dosenku meluruskan semua masalahnya. Kami bersalaman dan
bergegas keluar dari ruangan itu. Dante tak mengeluarkan sepatah katapun. Setelah
dari ruangan itu aku mengajak Dante duduk di bawah sebuah pohon. Di taman,
tempat Dante menungguku siang ini. Aku membersihkan lukanya. Dan Dante
benar-benar tak mengatakan apapun. Hal itu membuatku khawatir. Aku juga tak
berani memulai pembicaraan saat itu, jadilah aku tetap diam.
“kau tak apa?”
tanya Dante sambil memandangku. Aku terkejut mendengarnya mulai bicara. Tak mau
merusak kalimatnya, aku hanya menggeleng.
“sungguh?”
tanyanya lagi meyakinkan dirinya dan aku. “ sungguh.” Kataku mencoba
memperjelas.
“maafkan aku,”
jawabnya lagi. Aku cukup bingung, mendengar Dante meminta maaf. Sejauh yang aku
tahu, seharusnya yang minta maaf adalah aku. Karena aku, dia jadi sasaran
tonjokan kak Romero. Tapi, kini dia yang malah minta maaf, jadilah aku makin
bingung.
“maafkan aku, karena
aku lancang menjawab pertanyaan kan Romero padamu tadi. Aku tak tahan melihatmu
jadi perhatian orang banyak seperti itu saat kamu mengis seperti tadi. Jadi aku
berusaha untuk menghindarkanmu dari perhatian orang, tapi kamu malah jadi
sasaran perhatian orang aku sungguh minta maaf padamu.” Jelasnya padaku
“ha? Seharusnya aku
yang minta maaf, karena kebiasaan burukku yang selalu saja menangis dan tak
bisa menahan tangisanku membuatmu jadi sasaran tonjokan. Aku minta maaf dan
juga berterima kasih karena membantuku untuk mengucapkan maksudku, karena jujur
seandainya aku tak menagis sekalipun, aku tahu aku tak akan mampu menjawab
permintaan kak Romero.” Jelasku lagi
“kamu tak apa? Lukamu?”
tanyaku
“tak apa. Sekarang...
aku hanya...”
“kenapa? Kamu merasa
sakit? Dimana? Kita perlu ke klinik? Ayo aku antar?” tanya ku panik.
“tidak, aku tak
perlu ke klinik aku hanya...” dia tak menyelesaikan kalimatnya, Dante hanya
memegangi perutnya.
“kau lapar?”
tanyaku melihatnya memegangi perutnya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. “
Dasar kau ini!” menyeru padanaya. Akhirnya kami berjalan ke kantin berdua
sambil bercanda dan berusaha melupakan
apa yang baru saja terjadi.
Keesokannya, aku berjanji menemui Dante di
kantin untuk mentraktirnya lagi hari itu setelah kelasku usai. Selama berjalan
menuju kantin aku dipandangi begitu banyak orang. Banyak yang sudah mendengar
berita kejadian kemarin itu. Berita memang cepat menyebar. Banyak yang
memandangku sinis. Begitu membenciku. Aku dicap orang yang sok sejak hari itu, karena
aku menolak seorang pangeran pianis di kampus. Gadis-gadis di kampus begitu tak
menyukaiku sejak itu.
Kak Romero juga menghindariku terus. Dan untungnya
aku punya Dante yang selalu menemaniku karena tak ada seorangpun yang mau
berteman padaku, hanya beberapa gadis yang tak peduli pada popularitas yang mau
berteman denganku. Itulah sebabya Dante adalah segalanya bagiku. Karena meski
kami berbeda divisi kelas, dia selalu berusaha menemani dan membantuku.
Aku masih melamun mengingat masa lalu itu,
dan begitu takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Dengan segala
kemungkinan karena masa lalul ini. Aku bertanya-tanya mengapa seniorku ini mau
meneriam untuk jadi pembimbingku. Mengingat apa yang pernah aku lakukan
padanya.
“iya, aku akan
membimbing kalian di sisa semester ini, selama prof. Froza pergi. Aku harap
kalian dapat menerima bimbinganku dengan baik. Aku juga mohon bantuan kalian
karena ini tugas pertamaku sebagai assisten dari prof. Froza.” Kata kak Romero
sambil mempersilahkan kami menegakkan punggung kami. Dia tersenyum padaku dan Dante.
Tapi, senyuman itu mebuatku semakin merasa takut. Dan aku hanya berharap dia
benar-benar akan membimbing kami dengan baik. Juga mampu melupakan masa lalu
yang cukup membuatnya malu saat itu, aku harap dia membangun atmosfer yang baru sebagai senior
dan junior yang baik saat membimbing kami nanti dan tak mengingat masalah lalu
itu sedikitpun.
Dante menyenggolku, menyadarkanku dari
keterpakuanku akan keadaan yang tengah terjadi dan mengisyaratkanku untuk
mengatakan sesuatu agar tak tak terjadi suasana yang kaku. Tapi, aku begitu
bingung mau mengatakan apa.
“ baiklah, aku ada
urusan lain. Kalian mulai saja latihan hari ini. Aku tinggal. Silahkan Romero.”
Ucap dosenku memecah ketegangan.
“terima kasih
prof, hati-hati dijalan. Sampai jumpa lagi” ucap kak Romero menghantarkan
kepergian dosenku kedepan pintu.
“apa yang harus
aku lakukan? Mengapa harus begini?” tanyaku panik pada Dante.
“sudah, santai
saja. Hadapi saja. Cuma latihan dan bimbingannya yang kita butuhkan. Aku tak
peduli dengan apa yang pernah terjadi aku juga sudah berusaha melupakannya. SMILE!!!”
Dante mencoba menghiburku.
“aaaahhh,
lepaskan! Iya-iya aku tahu...” kalimatku berhenti melihat kak Romero masuk
ruangan.
“ayo,, kita mulai
latihan hari ini. Dan aku harap kamu bisa segera fokus dan tak terlalu
terhanyut kedalam cerita lagunya tapi bisa terhanyut dan masuk dalam musiknya
ya Reva” ucap kak Romero memulai latihan
hari itu.
“iya kak,”
jawabku.
“lagu apa yang
akan kalian bawakan? Lagumukan Dante?” tanya kak Romero
“iya... ini
lagunya. Dan ini demonya.” Jawab Dante berusaha bersikap senormal mungkin
sambil mengabaikan apa yang pernah terjadi.
“kalian tak perlu
kaku seperti itu. Kita lupakan saja yang pernah terjadi dan membuka lembaran
baru.” Kata kak Romero sambil membaca sheet yang diberikan Dante. Kalimat itu
cukup membuatku kaget. Dan sedikit melegakan karena salah satu ketakutanku
ternyata cukup diterima dan diapahami dengan baik. Jadi aku tak perlu
menahannya.
“benarkan Dante,
dan, aku rasa aku tak perlu mendengar demo lagumu. Kalian bisa mulai
memainkannya sekarang.” Siang itu, meski sedikit mengagetkan dan aku cukup
terkejut. Semua berjalan cukup lancar. Latihannya juga. Kami sedikit gugup
memang, tapi semua bisa teratasi. Dan beruntungnya lagi. Siang itu juga, lagu
kami diterima oleh dosen Dante. Dan jadilah kami membawakan lagu itu untuk
resital kami musim ini. Dibawah bimbingan kakak senior yang sempat membenci
kami. Siang yang tak terduga. Dan hal itu membuatku begitu lapar.