Jumat, 31 Agustus 2012

Kumpulan Puisi

kesempatan ini saya mau nulis tentang beberapa peristiwa yang saya alami belakangan ini dalam bentuk puisi... semoga tulisan saya tidak terlalu jelek. karena ini adalah puisi-puisi yang saya tulis sejak tahun-tahun lalu dan saya pilih beberapa untuk saya bagikan...


Menanti Sebuah Kenangan

Mata tak kunjung berhenti memandang
Helaian dedaunan kering,
Berterbabgan tertiup kelembutan angin,
Melukiskan hatiku yang penuh kehampaan,
Terombang ambing terterpa badai kepedihan
Angin berhembus lembut
Selembut kenanganku padamu,
Memutar semua lembaran cerita
Yang teruntai antara kau dan aku,
Yang pernah kita lalui

Aliran sungai,
Mendendangkan lantunan melodi merdu,
Percikan air di antara bebatuan,
Berlalu melintasi gundukan hijau perbukitan,
Seiring aliran manikam mataku,
Butiran mutiara berjatuhan dengan senyuman manismu,
Binary matamu,
Yang hanya tinggal kenangan.
Di batas angin ke menunggu
Menunggu belaian bayu,
Yang keunatikan untuk membawa
Sosok mu kemabali ke sisiku.

Hanya di batas angin aku meratapi,
Terpuruk dalam tangisan,
Di batas angin aku menanti,
Dirimu yang tak kunjung dating menghampiri,
Kebahagian bersamamu
Hanya sebatas hembusan angan belaka



Harap Diri

Aku terpaku, terdiam membisu
Berjatuhan manikam dari mataku
Aku mersakan suatu keperihan hati
Merasakan luka sayatan tak terobati
Kupejamkan mataku,
Berharap yang berkelebat dihadapanku,
Hanya sebuah ilusi,
Yang akan segera berlalu meninggalkanku
Jemari ini menengadah tinggi,
Jantung berdegup kencang tanpa henti,
Menghamba, bertekuk lutut ,
Mengerang berharap semua berlalu
Daku mengeram, memberontak seorang diri
Menatap lidah langit menyambar, berteriak
Menggetarkan kekokohan kesombongan,
Memusnahkan kebahagiaan yang terpancar
Jiwa hanya mendamba kesadaran,
Pengakuan, adanya diri ini disini,
Berharap belai kasih yang tak pernah menjamah,
Bukan senyum kebohongan di balik siksa tangan gaib



Together

Together,
Within a smudge of blue,
I walk the foothpath.

Together,
With only ourselves in a group,
We are content.

Together
We talk about the important things of our lives.

Together,
we are somehow complete, needing no-one else.

Together,
We hear the voice behind us, interrupting our private world.

Together,
As if one person, we glance back
Seeing the face that spoke.

Together,
We try to accomaodate the person,
Losing the closness we had.

Together no longer,
We becaome smatters of blue
That once made a beautiful smudge.




Remember

As i sit alone
With the warm sun on my back
I realize something’s missing
A part of me which lacks.

Could it be the trees,
Reaching for the sky?
Or could it be the children,
Walking home, who pass me by?

Perhaps, i miss the birds
Chirping sweetly above my head?
All I feel is restlessness
A part of le is dead.

I know now what ist is.
Now i realize what is wrong
It’s the feeling, they call solitude,
All my friends are gone.

Of course I know,
That as we grow,
We have to create our own way,
We all must plot a different course,
To go by everyday.

I always thought my friendship
Would be round
Just like moon,
But you see,
I am not ready well,
For it all to end soon.
I miss their happy laughter,
Floating on the wind.
I miss the many secrets,
That circulate within.

The only way to keep,
Our friendship woven tight,
Is to keep in touch always,
And we’ll be alright!  






 

Cerpen Remaja

waktu yang lalu saya sempat menulis sebuah cerpen buat teman saya yang ulang tahun. dan peda saat ini saya ingin menceritakan cerita tersebut kembali, tetapi kali ini saya menulis dari sisi yang lain tokoh dalm cerita tersebut. jika yang lau saya menulis dari sudut si gadis. maka sekarang saya akan menulis cerita tersebut dari sudut sang cowok, so... let check it... wish you love it ^___^


My Mystery

Aku terkadang benar-benar tak mengerti jalan pikiran Reva, dia gadis baik. Banyak sebenarnya yang sangat menarik darinya. Tapi entah mengapa tak banyak anak yang mau berteman dengannya. Bukannya aku tak benar-benar tahu mengapa Reva tak memilki banyak teman. Karena aku saksi kejadian itu. Hal itu terjadi pada awal musim pertama kami. Hanya karena tingkah senior kami yang tak bisa menahan perasaan dan sulit memahami bahasa manusia itu.
Aku sebenarnya sudah mulai melupakan kejadian itu. Tapi, saat aku sedang sendiri dan memikirkan Reva, tanpa sengaja ingatan itu sering muncul. Membuat aku kesal, mengingat kebencianku pada seniorku itu dan banyak lagi kejadian buruk yang menimpa Reva setelah kejadian itu dan membuat aku geram. Perlakuan aneh dan canggung yang menjadi biasa saja bagi Reva kini, karena menjadi kebiasaan. Dijahili, dihina, digunjing sana-sini, sangat biasa bagi Reva. Untungnya dia anak yang tidak terlalu menampakkan kesedihannya dan tidak terlalu mempedulikan hal-hal semacam itu. Dan kejadian itu memupuk Reva yang kuat dan ceria seperti sekarang. Revaku yang aku sayangi.
Siang ini aku sebenarnya berniat menyatakan perasaanku pada Reva. Perasaan yang aku simpan selama hampir 3 musim sekolahku. Aku selalu dianggapnya sahabat. Meskipun aku menikmati anggapan itu. Tapi terkadang keinginan untuk memiliki Reva dengan status yang lain dan lebih mendalam sering kali muncul. Seperti malam lusa, saat aku ingat dia maminta untuk dibuatkan lagu untuk resital musim ini. Aku memang tak bingung mencari inspirasi mengenai lirik lagu-laguku yang kebanyakan bertemakan cinta. Karena dialah inspirasi utamaku.
Aku memetik gitarku dan memainkan beberapa chord untuk membuka perasaan dan kudapatkan apa yang aku cari. Aku mulai mengingat kenangan-kenanganku dengan Reva. Maka terhanyutlah aku dalam suasana yang dalam. Dan tanpa kusadari hampir tengah malam aku menyelesaikan dasar laguku beserta liriknya. Keesokannya kusempurnakan nada-nada yang aku susun malamnya dan siang ini aku berniat menggunakan lagu itu untuk menyatakan perasaanku pada Reva. Aku tak begitu yakin sebenarnya mengenai rencana yang itu. Karena Reva adalah gadis aneh dan unik yang pernah aku temui. Kebanyakan gadis mulai meletakkan perasaan pada laki-laki yang dekat dengannya dan mulai menjalin perasaan. Tapi, tidak dengan Reva. Selama hampir 2 tahun ini bersamaku, dia tetap menganggapku sahabatnya tanpa menunjukkan perasaan yang aneh-aneh seperti teman gadisku yang lain. Dia begitu polos. Hingga tak menyadari banyak laki-laki yang menginginkannya. Terutama aku.
Siang ini, aku rasa dia akan muncul dengan tampang acak-acakannya seperti biasa. Rambut terikat tak karuan, lari terengah-engah. Dan dia pasti terlambat bangun karena melihat film terlalu lama atau terlalu terhanyut mendengarkan musik sambil menangis. Jadi kuputuskan untuk menunggunya dibawah pohon depan ruang latihan kami seperti biasa. Aku berbaring disana. Mempersiapkan kata-kata untuk kusampaikan pada Reva tentang perasaanku, kuharap dia memahami maksudku. Aku mengingat kejadian dengan seniorku lalu, aku takut hari ini Reva akan meolakku seperti dia menolak seniorku waktu itu. Aku jadi sedikit resah. Kupandangi jarum jamku. Dan kutengok kebelakang, ya... Reva sudah nampak berlarian disana. Seperti yang aku perkirakan. Dia berlarian karena terlambat, Reva nampak takut aku marahi siang ini. Aku putuskan untuk mendongak dan menyapanya,
hallo nona... kesiangan lagi? Hobi sekali anda membuat saya menunggu anda.” Seruku menyindir. Dia pasti menyadari jika aku sedikit menyindirnya sekarang. Reva hanya memberi senyuman dan meminta maaf sekadarnya dan tanpa basa-basi memintaku untuk menyanyikan laguku. Memang Reva, tanpa basa-basi sungguhlah dirinya. Aku sudah menebak akan begini jadinya. Aku jadi bingung harus mulai dari mana. Karena, sebenarnya sebelum kunyanyikan lagu ini aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku. ‘what should I do?’
Sambil aku manata kata-kata jadilah aku menggodanya. Aku menggodanaya dengan berpura-pura tak mau menyanyikan lagu itu. Meskipun dalam hatiku sebenarnya sedang bergejolak begitu banyak kebingungan untuk mengungkapkan perasaanku yang tak tertahankan lagi. Reva terus merayuku dan meminta maaf karena datang terlambat. Aku terus memasang wajah kesal karena dia terlambat, meski sebenarnya aku kesal dengan diriku sendiri yang tak mampu mengatakan isi hatiku. Aku masih begitu takut dia malah akan pergi dan menjauhiku jika dia tahu aku memendam perasaan padanya.
ayolah... aku sungguh-sungguh minta maaf karena terlambat. Sekarang, bernyanyi ya...” rayu Reva memintaku memainkan gitar. “ayolah...” pintanya lagi sambil mengoyak-oyak badanku untuk memintaku bangun.
Aku duduk, dan menatap Reva lekat-lekat. Lalu karena begitu kesal aku mencubit pipinya. Aku lihat dia merasa kesakitan dan berusaha melepaskan cubitan itu. Namun tak berhasil. Jadilah dia begitu pasrah menunggu aku puas mencubit pipinya. Kupandangi pipinya yang memerah, perasaanku semakin tak karuan.
hentikan... pipiku sakit. Makin merah nanti.” Pinta Reva sambil mencoba melepaskan cubitan itu. Teriakan itu mengembalikanku ke bumi dari kebingungan yang menusukku.
bisakah? Bisakah kamu berhenti membuat aku menunggumu? Aku lelah tau. Aku tak akan menunggumu lagi setelah ini. Dan setelah resital ini aku tak mau menunggumu lagi. Paham?” kataku sebelum melepaskan cubitanku dari pipinya yang sangat merah sekarang. Tanpa kusadari, hampir saja kata-kataku tak terkontrol. Tapi, kulihat Reva tak menyadari maksudku dengan kalimatku yang tak mau menunggunya. Tapi untunglah, karena dia tidak begitu menanggapinya. Seperti yang kutakakutkan. Reva malah mengira aku marah karena dia datang terlambat hari ini.
Reva kembali merayuku. Kuputuskan untuk menyanyikan laguku. Kukatakan di telepon tadi pagi pada Reva jika lagu ini untuknya. Tapi kuduga dia tak akan mengerti maksudnya, dan dugaanku itu benar. Dia nampak begitu biasa saja.
Kunyanyikan laguku, dalam bait-bait awal aku bernyanyi dengan terus mamandangi Reva. Namun, Reva begitu mudah terhanyut dalam musik. Dia langsung masuk ke dunianya sendiri setelah beberapa bait. Akupun akhirnya begitu menikmati laguku. Dengan membayangkan Reva ada didalamnya. Kunyanyikan laguku dengan penuh perasaan, dengan berharap Reva menyadari bahwa dialah yang kumaksudkan.
bagaimana?” tanyaku. Dia nampak belum kembali dari dunianya. Seperti biasa. Kupandangi wajah merahnya. Dia meneteskan air mata. Kuharap dia memahami maksud laguku. Kuminta dia berkomentar. Tapi dia tetap saja diam. Reva terus saja terdiam. Dia nampak begitu terkagum-kagum. Aku suka memandangi wajah ini saat mendengar aku bernyanyi. Reva selalu nampak begitu cantik seusai menutup matanya sambil menikmati lagu. Dia nampak begitu polos disana. Wajah yang selalu aku rindukan.
ada apa? Ada sesuatu pada diriku? Pandanganmu cukup menggangguku. Cepat hentikan!” bentak Reva padaku tak tahan terinterogasi secara batin oleh pandanganku.
tak ada sesuatu pada wajahmu. Tapi ada yang aneh.” Jawabku mengalihkan pembicaraan, karena aku juga jadi salah tingkah terlalu lama memandanginya.
apa? Apa yang aneh dariku?” tanyanya lagi nampak begitu bingung sendiri.
aku tahu. Setiap kau mendengarkan sebuah lagu, kamu pasti akan terbang sendirian ke dalam duniamu. Tapi, hari ini berbeda. Kau sampai menangis dan terjatuh terlalu jauh pada laguku.” Kataku menjelaskan mencari-cari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
mungkin itu karena lagumu terlalu bagus. Sampai aku begitu terhanyut.” Katanya lagi sambil meraih gitar yang aku letakkan diantara kami. Dan, mendengar kata-katanya dengan senyuman. Aku terus saja mengorek jawaban darinya. Jawaban yang sebenarnya sudah kuketahui. Tapi, aku masih begitu kebingungan untuk mencari kesempatan menyatakan perasaanku pada Reva hari ini.
bohong! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan! Sekarang juga katakan! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Katakan sekarang juga dengan jujur!” seruku menelisik “ cepat! Katakan!” kataku memaksa lagi. Aku begitu menikmati saat-saat bersamanya seperti ini. Hal ini yang membuatku selalu memendam perasaanku padanya sampai selama ini. Aku begitu takut kehilangan saat-saat bersamanya.
apa? Apa yang aku sembunyikan? Tak ada.” Jawabnya sambil menarik gitar dan menatanya dipangkuan, Reva mulai memetik senarnya secara acak tak karuan.
itukan! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tak bisa bohong dariku. Begitu gugupnya sampai bingung tak bisa memainkan gitar dengan benar. Katakan sajalah...” jawabku seakan menemukan sesuatu darinya. Keluguannya yang manis. Dia tak begitu bisa menutupi perasaan yang ada pada dirinya.
terserah padamu. Aku tak ada rahasia yang perlu aku katakan.” Jawabnya ketus dan mulai memainkan gitar secara tak karuan.
ya sudah kalau tak mau katakan. Aahhh... tapi hentikan permainanmu yang merusak telinga itu. Dan berikan komentar pada laguku.” Pintaku lagi menagih jawaban. Aku pandangi wajahnya mencari-cari jawaban untuk keresahan hatiku. Aku memegang gitar itu dan meraihnya dari pelukan Reva. “ bagaimana?” desakku tak sabar.
Kurasa inilah saatnya, aku tak mampu lagi menahan perasaanku padanya. Aku tak begitu meledak rasanya. Aku berlutut didepan Reva dengan memeluk gitarku untuk menambah kepercayaan diriku. Karena begitu gugupnya untuk menyatakan perasaanku. Jadilah aku sedikit gemetar. Kututupi itu dengan memegangi gitarku.
bagaimana nona? Lagu yang aku persembahkan untukmu? Indahkah? “ tanyaku penuh senyuman. Perasaanku sungguh tak karuan. Bukan itu yang sebenarnya yang ingin aku tanyakan. “nona? Bagaimana?...” kulihat Reva tetap saja terdiam dan tak menjawab. Kutunggu jawaban dari pertanyaan yang bukan hal yang benar-benar aku tanyakan padanya. Begitu lama dia memikirkan jawaban. Perasaanku semakin tak karuan. Pertanyaan-pertanyaan bodoh muncul dipukiranku. Ketakutan-ketakutan muncul.
Ya! Cepatlah jawab! Aku sedang berbaik hati dan mencoba menirukan adegan romatis seperti di film,film dan drama oriental yang sering kamu tonton itu! Kenapa kamu tak bisa merespon dengan baik. Dasar kau! Tak ada sisi manis dan romantisnya sebagai gadis!” sentakku tak tahan dengan apa yang aku lakukan sendiri. Kuurungkan niatku untuk menyatakan cintaku pada Reva saat ini.
Dante!!! Apa yang sedang kamu lakukan saat ini??? Ini bisa membuta Reva menjauhimu!” perasaan ini yang terus saja muncul dalam benakku. Aku sungguh menyesali kebodohanku ini.
jahat sekali kamu! Tak ada sisi romantisnya katamu, kejam sekali kamu menghina perempuan. Aku benci padamu...” jawabnya marah dan memalingkan wajah dariku. Aku jadi bingung. Sungguh merasa bersalah pada Reva. Apa yang akan terjadi setelah ini?
ya... marah. Aku tahu, kamu begitu penuh perasaan, mendengar lagu saja sampai menagis, apalagi melihat film kamu seakan bisa ikut mati kalau pemeran utamanya menangis. Tapi...” kalimatku merayu terpotong.
tapi apa?” jawab Reva memotong kalimatku.
tapi, kamu selalu tak bisa memahami jika hal itu benar-benar terjadikan?” jelasku. Tak sadar kalimat itu terucap. Aku semakin tak karuan.
maksudmu? Benar-benar terjadi? Aku mengalaminya maksudmu?” tanya Reva tak memahami kata-kataku. Aku cukup tenang dia tak memahami maksudku.
iya. Seperti tadi. Saat aku menyanyikan lagu. Kamu terhanyut. Tapi saat aku katakan dengan yang sedikit romantis, kamu tak merespon dan hanya sedikit mengeluarkan emosi kamu memahami kata-kataku. Atau lebih tepatnya kamu tak ada perasaan untuk menjawabnya.” Jelasku padanya penuh penyesalan, karena aku tak begitu memahami diriku saat ini sebenarnya.
haha... kau ini. Begitu saja marah. Kalau kamu yang lakukan itu padaku, aku tak akan terhanyut dan malah ingin tertawa melihat ekspresimu. Sudah jangan aneh-aneh. Bigini ya, lagumu begitu bagus. Kamu bisa ajukan lagu itu pada dosenmu dan mulai membuat melodinya dan saat lagu itu di setujui oleh dosenmu kamu bisa segera lakukan resital dan aku akan membantumu melakukannya. Bagaimana? Aku yakin lagu itu pasti disetujui, karena musiknya sederhana tapi begitu misterius dan membuat orang ingin mengerti klimaksnya. “ Reva mulai berkata-kata. Aku sudah tak peduli pada laguku saat ini. Aku dalam kebingungan yang mendalam.
ada apa?” tanya Reva menghentikan kalimatnya. Mungkin dia menyadari aku sudah tak menanggapi kalimatnya.
ada kata-kataku yang salah?” tanyanya melihatku hanya terdiam. Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan saat ini. Kumohon Reva, pahami perasaanku. Aku sungguh tak peduli dengan anggapan Reva sekarang. Aku hanya ingin perasaanku terbebas. Akan kukatakan yang ada dalam hatiku agar tak menjadi beban seperti ini.
begitukah, begitukah perasaanmu yang sesungguhnya padaku? Begitu dinginnya? Tak adakah sedikitpun rasamu padaku?” jawabnku. Semuanya serasa meledak. Reva nampak terkejut. Kalimatku tadi cukup meleburkan kesunyian yang tercipta sesaat tadi. Reva nampak kebingungan dengan kalimatku. Aku tak peduli dengan Reva. Aku hanya ingin melepaskan beban yang kupendam selama ini padanya.
tak ada sedikitpun sisi dalam hatimu yang terisi akan diriku? Tak seditkpun? Tak tahukah dirimu, setiap napasku, kuhembuskan hanya untukmu, dan tak sedikitpun dihatiku yang tak inginkan dirimu. Setiap langkahku aku terhenti dan hanya inginkan kamu dan hanya karena mengingatmu aku tak mampu terlelap dalam tidurku, dan juga karenamu jantungku selalu berusaha untuk berdetak. Don’t you know? I’do love love and don’t wanna lose you, now or ever?” kalimatku kuhentikan. Aku tersadar. Tapi, jika ini benar kulanjutkan dan respon yang diberikan Reva lain dari yang kuharakan, maka semua akan berakhir begitu saja. Bodohnya,,, apa yang aku lakukan ini? Semua makin rumit.
Kupandangi wajah Reva. Berharap Reva memahami maksudku. Atau lebih baik dia tak mengerti sama sekali apa maksudku. Tapi, Reva malah meneteskan air mata. Apa yang aku lakukan? Aku membuatnya menangis. Aku jadi bingung dengan Reva sekarang. Bukan lagi dengan perasaanku yang membelengguku tadi. Aku begitu tak tahan melihatnya menangis. Aku tak mampu melihatnya meneteskan air mata seperti itu.
Dante, aku tak mengerti maksudmu. Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya tak mau mengomentari lagumu, dan tak menyukai lagumu meskipun kamu menciptakannya untukku, tapi lagumu memang begitu bagus dan aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku,, aku,, hwa...!” tangisnya pecah. Membuatku menyadari, inilah Reva. Dia memang menyayangiku. Dalam lingkup persahabatan. Aku harus menerima ini. Memang tak lengkap dihatiku. Tapi hanya ini yang ada di dalam diri Reva. Mungkin karena traumanya pada pacaran karena Seniorku dulu, atau masa lalu di kehidupannya yang ia sembunyikan dari dulu padaku. Tentang dirinya dan kehidupannya yang tak pernah mau dia ceritakan, ataupun diingatnya lagi. Menyadari itu, aku sedikit sedih. Tapi juga bahagia. Setidaknya aku masih bisa bersamanya sekarang. Sedikat ini. Meski perasaanku tak tersampaikan, setidaknya aku dapat terus bersamanya. Dan melindunginya. Memberikan kasihku padanya.
haha... Reva.. Reva... aku tahu dan begitu memahami kalau kamu begitu menyukai laguku. Makanya aku lakukan ini. Ini adalah kometarmu yang begitu aku nantikan. Dengan begini aku begitu percaya diri untuk mengajukan lagu ini pada dosenku. Sudahlah. Berhenti menangis. Pipimu tak menangis sudah seperti kepiting rebus, sekarang kamu menangis malah seperti tomat, jelek sekali tau! Berhenti menangis” Aku tertawa sambil mengusap-usapkan pipinya yang manis dengan tissue. Aku bahagia menyadari semua. Aku begitu sayang padanya. Revaku.
apa maksudmu? Kamu membuatku menagis begini HA!!!” tanyanya masih terus saja menanggis dan tak mempedulikan pandangan orang-orang di taman yang melihatnya menangis. Dia nampak begitu polos. Aku sangat tertarik untuk tahu, apa sebenarnya yang ada dalam diri Reva. Bagaimana perasaan Reva padaku. Apakah memang hanya sahabat. Ataukah dia juga sesuatu yang lain dihatinya sepertiku.
sudahlah berhenti menangis, aku malu dilihati orang-orang di taman ini. Kamu tak manis jika menangis, hentikan tangisanmu. Reva... ayolah!!!” pintaku sambil terus melap pipinya yang semakin basah oleh air mata.
biar, apa maksudmu? Kau tahu aku tak bisa menahan tangisku kalau sudah begini. Aku ada pertemuan dengan dosenku sebentar lagi dan kamu lakukan ini padaku. Kau membuatku nampak aneh di depan dosenku dengan wajah memerah begini!” jawabnya ketus. Aku jadi ingat, kalau sebentar lagi kami akan menemui dosen kami untuk menyerahkan lagu ini. Aku jadi tertawa dalam hati sendiri. Hanya karena aku tak dapat menahan perasaan ini, aku bisa melupakan segala hal seperti hari ini. Tapi, meski tak sesuai harapanku hari ini cukup membuatku lega dengan dapat mengatakan apa yang ingin aku katakan pada Reva selama ini.
makanya berhentilah menangis. Aku tak tahan melihatmu menangis. Kau tahu...” kataku sambil tertawa, tapi sayang Reva sudah kembali ke bumi. Judesnya kembali. Dia memotong kalimatku.
ya aku tahu, apa yang akan kamu katakan. Aku memang tak tampak manis jika menangis seperti Vyeryn saat menangis di kelas akting lalu. Aku tahu, aku begitu tahu kamu menganggumi wajah apik Vyeryn.” Potongnya. Aku sebenarnya saat itu tidak memandangi tangisan Vyeryn. Aku malah memandangi wajan Reva saat itu. Tapi, karena kjetahuan memandanginya, aku yang salah tingkah jadi mengalihkan pembicaraan mengenai Vyeryn. Meski sebenarnnya hanya Reva yang aku kagumi.
nah, itu. Kamu tahu. Jadi berhentilah menangis.” Jawabku lagi merayunya untuk berhenti menangis. Karena sekarang wajahnya benar-benar sangat merah. Wajah ini yang selalu aku rindukan. Entah mengapa, wajah Reva selalu nampak memerah, meski hanya terkena sedikit matahari. Tapi hal itu yang membuatnya nampak begitu manis.
Reva nampak berusaha menghentikan tangisnya. Sedikit sesenggukan. Kuberi Reva minum agar sedikit tenang. Setelah nampak tenang, tanpa memberikan sedikit kata padaku dia berdiri, berjalan menuju ruang dosennya. Kuikuti dia dibelakang. Aku akan membantunya untuk resitalnya musim ini. Dia begitu percaya padaku untuk membantunya musim ini. Aku senang dia percaya padaku. Kami akan membawakan lagu ciptaanku untuknya. Aku merasa ini tak akan sulit. Karena lagu ini tentang dia, dan ini akan membuatku makin dekat padanya.
Dengan sedikit kelegaan dihati karena mampu mengungkapkan perasaanku meski tak secara langsung, aku bahagia dapat melakukannya. Aku tak membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, jika Reva menyadari maksudku. Dan dia menolakku, karena tak mau berpacaran denganku. Karena akulah satu-satunya orang yang paling tahu, jika Reva begitu takut untuk menjalin hubungan semacam itu. Dia selalu mengatakan, kalau dia bahagia dengan persahabatan kami. Dia tak peduli jika tak ada teman yang mau bersamanya, asalkan aku bersmanya. Hal itu membuatku bahagia, awalnya. Karena aku pikir, hanya aku yang ada dipikirannya. Tapi, lama-kelamaan sedikit menyakitkan karna perasaan itu tak berubah sampai sejauh ini.
Hal itulah yang membuatku begitu tertarik pada Reva. Apa sebenarnya alasan dia bersikap seperti itu. Tapi, biarlah itu jadi rahasianya. Aku hanya akan terus menjaga dan manyanginya juga setia menunggu sampai dia menyadari perasaanku padanya. Jadi, biarlah semua begini. Berjalan apa adanya, seperti biasa. Asalkan aku dapat bersamanya selalu. Oh,My beloved mystery, Reva.


Jumat, 17 Agustus 2012

Tips-Tips Kesehatan Ringan


Kesempatan ini, saya mau postingin beberapa tips sehat ringan yang murah meriah dan bisa dilakukan dengan mudah dan cukup membantu.
untuk menjaga penampilan, seseorang kadang akan mengatur dan merawat dirinya sedemikian rupa dari ujung kepala sampai ujung kaki, terutama disaat seperti ini, menjelang Hari Raya Idul Fitri. kadang ada bagian terlupakan saat melakukan perawatan diri. yaitu kesehatan kulit telapak kaki. Karena bagian yang tertutup dan jarang diperhatikan orang jadi enggan untuk memberikan perhatian khusus pada kulit bagian ini. akan tetapi jika dibiarkan begitu saja, telapak kaki bisa menjadi kering, warnanya menjadi kusan dan parahnya akan pecah-pecah. hal itu terjadi karena meski tertutup, jika dibiarkan akan menyebabakan rasa sakit saat berjalan dan rasa tak nyaman saat menggunakan alas kaki. untuk itu perlu menjaga kehalusannnya...
Caranya mudah sekali looo cukup dengan:
1. Kita dapat membersihkannya dengan membersihkannya dengan air hangat secara teratur.
2. Untuk membantu mengurangi kasar-kasar pada kaki, cobalah untuk mengurangi menggunakan sepatu tertutup jika memang kondisinya seperti itu
3. Gunakan kaus kaki untuk menyerap lembab keringat jika harus memakai sepatu
4. kita juga dapat gunakan bawang putih untuk menjaga kehalusan kulit telapak kaki.
   caranya: potong 1 siung bawang menjadi 3-5 bagian, kemudian gosokkan perlahan pada telapak kaki. biarkan sampai 15 menit. dan bersihkan dengan lap sedikit basah. lakukan secara teratur.
kegiatan diatas dapat menjaga kaki tetap halus, tidak pecah-pecah dan tetap bersih, tak nampak kusam

Selamat Mencoba



Rabu, 15 Agustus 2012

Cerpen Remaja

kesempatan ini, gak tahu kenapa kok kepikiran sama film-film romantis yang habis diliat kemarin. jadi kepikiran buat sesuatu yang berkesan dari kisah kemarin-kemarin. jadilah tercipta cerpen gak jelas ini. semoga sedikit berkesan deh buat yang baca. tapi khusus, aku ucapain happy birthday buat yang lahir 15/08 cerpen ini buat kamu ... selamat membaca...


Siang itu

Siang itu, aku memutuskan untuk segera menemui sahabatku tercinta. Dante. Kami janji bertemu ditaman depan ruangan latihan kami untuk membahas lagu yang akan kami gunakan untuk resital musim ini. Karena latian perpaduan dan pemilihan pasangan sudah kami lakukan. Jadi tinggal menetukan lagunya. Dante bermaksud emabuat suatu yang berbeda dengan menyanyikan lagunya sendiri. Dan katanya dia menciptakan lagu itu khusus untukku. Biasa bagiku. Karena memang begitulah Danteku tersayang. Sahabatku yang begitu baik, dan selalu menyelamatkan aku dari kesendirian karena kebaodohanku dalam bergaul sejak awal kami bertemu di kampus ini 3 tahun yang lalu.
Aku berlari menuju taman, karena aku tahu Dante akan marah jika aku datang kebih dari 3 menit lagi. Karena aku memang benar-benar terlambat siang ini. Dan dugaanku benar. Dia sudah terbaring diatas rerumputan dibawah pohon disamping gitarnya. Dante pasti sudah menungguku begitu lama. Aku mempercepat langkahku. Tapi tetap saja...
“hallo nona... kesiangan lagi? Hobi sekali anda membuat saya menunggu anda.” Sapa Dante menyindirku. Dan aku rasa dia sedikit kesal padaku karena bahasanya begitu formal.
“maaf tuan... saya sungguh-sungguh minta maaf.” Pintaku sambil menyatukan jariku memohon maaf. Aku raih gitar Dante. Mengeluarkannya dari tasnya dan memberikannya dengan penuh kesopanan dan senyuman lebar untuk merayunya.
“nyanyikan saja” pintaku manja pada Dante. Dia merubah ekspresinya. Manjadi begitu kesal. Dia rebah lagi kererumputan. Sambil menghela napas panjang.
“tak mau!” katanya. “aku jadi ngantuk sekarang. Dengarkan saja demonya. Aku mau tidur sebentar sambil menunggu waktu.
“ayolah... aku sungguh-sungguh minta maaf karena terlambat. Sekarang, bernyanyi ya...” rayuku memintanya memainkan gitar. “ayolah...” pintaku lagi sambil mengoyak-oyak badannya untuk memintanya bangun.
Dante duduk, dia menatapku lekat-lekat. Lalu mencubit pipiku keras. Aku yang kesakitan berusaha melepaskan cubitan itu. Namun tak berhasil. Jadilah aku pasrah menunggunya puas mencubit pipiku.
“hentikan... pipiku sakit. Makin merah nanti.” Pintaku sambil mencoba melepaskan cubitan itu.
“bisakah? Bisakah kamu nberhenti membuat aku menunggumu? Aku lelah tau. Aku tak akan menunggumu lagi setelah ini. Dan setelah resital ini aku tak mau menunggumu lagi. Paham?” sambil memperkuat cubitannya dan kemuadian melepaskannya.
“iya,iya aku tahu. Maaf. Sekarang nyanyi ya?”pintaku lagi. Kuberikan gitarnya dengan memasang wajah sok manis.
“iya.iya. kasih komentar yang jujur setelahnya. Biar nanti resital jadinya bagus. Kan kita mainnya berdua. Kalau ada bagian yang gak kamu suka, katakan! Mengerti? “ tanyanya
“iya.” Jawabku singkat
     Dante memainkan lagunya. Dia mulai memetik dawai gitarnya. Aku mencoba fokus. Dan memahami lagunya. Kudengarkan dengan seksama. Aku mulai terhanyut. Membayangkan Dante dalam situasi seperti dilirik itu. Dia meminta gadisnya untuk tetap berada disampingnya. Dan menjelaskan betapa pentingnya gadis itu bagi Dante. Akan tetapi gadis itu tak memahami maksud Dante dan Dante hanya menyimpan perasaannya sambil melindungi dan mengaharapkan gadis itu selalu ada bersamanya juga tak ingin kehilangan gadis itu.
     Bukan tipe Dante menurutku, menanti seorang gadis sampai seperti itu. Mengingat kebiasaan Dante yang suka menggoda gadis-gadis di kampus dan Dante adalah cowok yang lumayan polpuler dikampus karena kemampuannya menciptakan lagu, yang kadang diamanfaatkannya untuk menggoda gadis-gadis. Tapi sudahlah, itu kisah Dante. Yang pentinga lagunya. Aku mulai terhanyut. Tak heran Dante menjadi idola. Lagunya benar-benar bagus.
Saat mendengar lagu itu, aku membatu. Badanku kaku, seakan dingin tak hidup. Berlebihan? Mungkin. Tapi hal itulah yang aku benar-benar aku rasakan saat mendengar Dante memainkan lagu ciptaannya. Dia menciptakan lagu itu untukku katanya. Dan aku sungguh-sungguh terkagum-kagum mendengar lagu itu. Tanpa aku sadari aku benar-benar terhanyut mendengar lagu itu, hingga tak menyadari Dante telah memetik dawai terakahir dari gitarnya yang melengking memebuyarkan lamunanku.
“bagaimana???” tanya Dante. Aku hanya terdiam tak menjawab. Dante memandangiku. Menatapku, dan tiba-tiba tersenyum. Sambil tersenyum manis dianberseru padaku “hallo,,, nona ayo kembali turun, dan tapaki bumi. Jangan terbang terlalu lama. Bagaimana menurutmu laguku? Kau sampai terpana seperti itu. Berkomentarlah!”.
Aku tergagap, hampir terjungkir dari kursiku. “iiiya... bagus sekali. Aku sampai terpaku”. Dante seakan tak puas dengan jawabanku. Dia kembali memandangiku dan terus menjelajahiku seakan mencari-carisesuatu yang sangat penting miliknya. Aku jadi salah tingkah sendiri melihatnya mencari-cari sesuatu pada diriku.
 “ada apa? Ada sesuatu pada diriku? Pandanganmu cukup menggangguku. Cepat hentikan!” tanyaku yang sudah tak tahan diinterogasi secar batin oleh pandangannya. 
“tak ada sesuatu pada wajahmu. Tapi ada yang aneh.” Jawabnya setelah mengubah pandangannya dan meletakkan gitarnya.
“apa? Apa yang aneh dariku?” tanyaku juga bingung sendiri.
“aku tahu. Setiap kau mendengarkan sebuah lagu, kamu pasti akan terbang sendirian ke dalam duniamu. Tapi, hari ini berbeda. Kau sampai menangis dan terjatuh terlalu jauh pada laguku.” Kata Dante menjelaskan.
“mungkin itu karena lagumu terlalu bagus. Sampai aku begitu terhanyut.” Kataku lagi sambil meraih gitar yang diletakan Dante diantara kami. Dan, menutup kata-kataku dengan senyuman. Tapi, dengan tiba-tiba Dante meraih gitar itu dari palukanku, hingga aku hampir terjatuh karena dudukku yang belum seimbang setelah meraih gitar.
“bohong! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan! Sekarang juga katakan! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Katakan sekarang juga dengan jujur!” seru Dante dengan nada menelisik sambil memegangi gagang gitar yang aku peluk sambil menekankan pandangannya padaku penuh curiga. “ cepat! Katakan!” katanya memaksa lagi.
“apa? Apa yang aku sembunyikan? Tak ada.” Jawabku sambil menarik gitar dan menatanya dipangkuanku, mulai memetik senarnya secara acak tak karuan.
“itukan! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kamu tak bisa bohong dariku. Begitu gugupnya sampai bingung tak bisa memainkan gitar dengan benar. Katakan sajalah...” jawabnya penuh kenggaan seakan menemukan harta karun dari sikapku sambil melipat tangannya.
“terserah padamu. Aku tak ada rahasia yang perlu aku katakan.” Jawabku ketus dan mulai memainkan gitar secara tak karuan.
“ya sudah kalau tak mau katakan. Aahhh... tapi hentikan permainanmu yang merusak telinga itu. Dan berikan komentar pada laguku.” Dante menagih jawabanku. Dia memandangku menanti jawabanku. Dia memegang gitar itu dan meraihnya dariku. “ bagaimana?” desaknya tak sabar. Tiba-tiba dia berlutut di hadapanku sambil memeluk gitar dan memasang wajah begitu sopan, “bagaimana nona? Lagu yang aku persembahkan untukmu? Indahkah? “ tanyanya penuh senyuman. Dia begitu mengharapkan jawabanku. “nona? Bagaimana?...” aku tetap saja terdiam dan tak menjawab dan hanya memandnagi wajahnya. “Ya! Cepatlah jawab! Aku sedang berbaik hati dan mencoba menirukan adegan romatis seprti di film-film dan drama oriental yang sering kamu tonton itu! Kenapa kamu tak bisa merespon dengan baik. Dasar kau! Tak ada sisi manis dan romantisnya sebagai gadis!” sentaknya tak tahan melihatku terdiam saja.
“jahat sekali kamu! Tak ada sisi romantisnya katamu, kejam sekali kamu menghina perempuan. Aku benci padamu...” jawabku marah dan memalingkan wajah darinya.
“ya... marah. Aku tahu, kamu begitu penuh perasaan, mendengar lagu saja sampai menagis, apalagi melihat film kamu seakan bisa ikut mati kalau pemeran utamanya menangis. Tapi...”
“tapi apa?” jawabku memotong kalimatnya.
“tapi, kamu selalu tak bisa memahami jika hal itu benar-benar terjadikan?” jelas Dante.
“ maksudmu? Benar-benar terjadi? Aku mengalaminya maksudmu?” tanyaku tak memahami kata-katanya
“iya. Seperti tadi. Saat aku menyanyikan lagu. Kamu terhanyut. Tapi saat aku katakan dengan yang sedikit romantis, kamu tak merespon dan hanya sedikit mengeluarkan emosi kamu memahami kata-kataku. Atau lebih tepatnya kamu tak ada persaan untuk menjawabnya.” Jelas Dante dengan lemas sekan dunianya berakhir.
“ haha... kau ini. Begitu saja marah. Kalau kamu yang lakukan itu padaku, aku tak akan terhanyut dan malah ingin tertawa melihat ekspresimu. Sudah jangan aneh-aneh. Bigini ya, lagumu behitu bagus. Kamu bisa jaukan lagu itu pada dosenmu dan mulai  embuat melodinya dan saat lagu itu di setujui oleh dosenmu kamu bisa segera lakukan resital dan aku akan membantumu melakukannya. Bagaimana? Aku yakin lagu itu pasti disetujui, karena musiknya sederhana tapi begitu misterius dan membuat orang ingin mengerti klimaksnya. “ aku menghentikan kalimatku. Aku memandangi Dante. Raut wajahnya berubah. Dia tak lagi begitu polos dan penuh senyuman seprti tadi. Sekarang, sekan dia akan menjatuhkan air matanya mendengar ucapanku tadi.
“ada apa?” tanyaku penuh rasa bersalah dan kebingungan. “ada kata-kataku yang salah?” tanyaku begitu tak memahami maksudnya. Dante semakin diam. Dan aku semakin kebingungan. Dan aku ikut terdiam dalam rasa bersalah, dan terus bertanya-tanya adakah kata-kataku yang salah?
“begitukah, begitukah perasaanmu yang sesungguhnya padaku? Begitu dinginnya? Tak adakah sedikitpun rasamu padaku?” jawabnya meleburkan kesunyian yang tercipta sesaat tadi. Aku makin kebingungan mendengar jawabannya.
“tak ada sedikitpun sisi dalam hatimu yang terisi akan diriku? Tak seditkpun? Tak tahukah dirimu, setiap napasku, kuhembuskan hanya untukmu, dan tak sedikitpun dihatiku yang tak inginkan dirimu. Setiap langkahku aku terhenti dan hanya inginkan kamu dan hanya karena mengingatmu aku tak mampu terlelap dalam tidurku, dan juga karenamu jantungku selalu berusaha untuk berdetak. Don’t you know? I’do love love and don’t wanna lose you, now or ever?” dia menghentikan kalimatnya. Dan memandangku penuh rasa sedih, gundah dan rasa tak mampu yang begitu dalam. Matanya nanar seakan akan menangis.
     Aku semakin bingung dan bersalah namun tatap saja aku taka mampu memahami maksud dari perkataannya.Aku makin terdiam, tak sadar aku teteskan air mataku dan pelan-pelan semakin deras-sreas dan semakin deras. Tangisku tak tertahankan dan pecah begitu saja. Ada rasa bingung yang mendalam dihatiku mendengar ucapan Dante. Apakah Dante ada rasa padaku. Tapi dia, dia sahabat terbaikki yang begitu mengerti aku yang begitu sulit untukjatuh cinta dan selalu lama untuk memahanmi perasaan orang lain padaku. Tapi, apa maksud Dante katakan ini padaku. Aku semakin bingung.
“Dante, aku tak mengerti maksudmu. Aku benar-benar minta maaf, aku bukannya tak mau mengomentari lagumu, dan tak menyukai lagumu meskipun kamu menciptakannya untukku, tapi lagumu memang begitu bagus dan aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku,, aku,, hwa...!” aku tak mampu menahan tangisku lagi. Aku melihat ke wajah Dante dia nampak kebingungan melihatku mengangis dia mengusap matanya, seakan baru saja menagis juga. Wajah Dante berubah menjadi kebingungan sesaat, dan kemudian tertawa begitu lepas.
“ haha... Reva.. Reva... aku tahu dan begitu memahami kalau kamu begitu menyukai laguku. Makanya aku lakukan ini. Ini adalah kometarmu yang begitu aku nantikan. Dengan begini aku begitu percaya diri untuk mengajukan lagu ini pada dosenku. Sudahlah. Berhanti menangis. Pipimu tak menangis sudah seperti kepiting rebus, sekarang kamu menangis malah seperti tomat, jelek sekali tau! Berhenti menangis” dia tertawa sambil mengusap-usapkan pipiku dengan tissue dan tangannya. Dia nampak kelabakan melihatku terus saja menangis tapi terus saja dia mengembangkan senyuman untuk menutupinya.
“apa maksudmu? Kamu membuatku menagis begini HA!!!” tanyaku masih terus saja mengis dan tak mempedulikan pandangan orang-orang di taman yang melihatiku menangis. Peraasnku tak karuan, tapi cukup lega mengetahui Dante hanya mempermainkanku. Menyadari kata-katanya tadi adalah lirik lagu yang baru saja dinyanyikan Dante untukku.
“sudahlah berhenti menangis, aku malu dilihati orang-orang di taman ini. Kamu tak manis jika menangis, hentikan tangisanmu. Reva... ayolah!!!” pinta Dante sambil terus melap pipiku yang semakin basah oleh air mata.
“biar, apa maksudmu? Kau tahu aku tak bisa menahan tangisku kalu sudah begini. Aku ada pertemuan dengan dosenku sebentar lagi dan kamu lakukan ini padaku. Kau membuatku namapak aneh di depan dosenku dengan wajh memerah begini!”jawabku ketus.
“makanya berhentilah menangis. Aku tak tahan melihatmu menangis. Kau tahu...”
“ ya aku tahu, apa yang akan kamu katakan. Aku memang tak tampak manis jika menangis seperti Vyeryn saat menangis di kelas akting lalu. Aku tahu, aku begitu tahu kamu menganggumi wajah apik Vyeryn.” Potongku.
“ nah, itu. Kamu tahu. Jadi berhentilah menangis.” Jawab Dante.
     Aku berusaha menghentikan tangisku. Sedikit sesenggukan. Dante memberiku minum. Dan mengikutiku menuju ruang dosenku. Hari ini aku diminta untuk menemui dosenku untuk membicarakan ujianku. Semester ini aku akan segera aku akhiri dengan menyelesaikan pertunjukan resitalku dengan pemusik lainnya. Dan aku memilih bermain bersama Dante. Tentunya dengan alasan, karena Dante sahabatku yang terbaik, dia mengerti aku lebih dari siapapun, dan yang sanagt penting dia juga akan melakukan ujian yang sama denganku dan sudah memiliki kosnsep lagu yang cukup sesuai denganku juga. Dan yang utamanya aku butuh lagu yang diciptakan Dante karanae aku sedang tak ada perasaan yang bisa membantuku untuk menciptakan lagu yang penuh emosi. Seperti yang diciptakan Dante. Aku bingung, Dante selau bisa menciptakan lagu romantis yang begitu indah, aku tak tahu dia penyu inspirasi dari siapa. Tak heran dia begitu dikagumu begitu banyak gadis di kampus. Tapi, entah mengapa dia malah memilih untuk  bergaul dengan gadis bantet berpipi merah ini.-aku-
     Sesampainya di depan ruangan dosenku. Aku berbalik dan menatap wajah Dante. ”Apa?” tanyanya tersentak melihatku tiba-tiba berbalik. “yakinlah, kau mampu. Ayo masuk.” Dia meyakinkanku.
“bukannya aku tak mampu. Tapi, apakah pi[iku sudah tak merah lagikan? Bagaimana?” aku merapikan diriku.
“sudah. Kau selalu nampak begitu. Itulah dirimu. Jangan pedulikan kata orang” dia memutar badanku dan mendorongku masuk ruangan dosenku.
“tapi ini semua gara-gara kamu. Aku jadi tak karuan.” Jawabku menyalahkannya.
“iya, aku tahu. Aku minta maaf membuatmu menangis sampai tak bisa berhenti.” Pintanya.
     Aku menghentikan langkahku dan memutar badanku menghadap Dante. “anak pintar. Bantu aku ya...” kataku sambil menepuk kepalanya dan mengelus rambutnya merayu. “iya nona. Jawabnya berusaha sopan.
     Saat memasuki ruangan dosenku. Aku cukup kaget, kulihat dua orang disana sedang duduk menyeruput kopi sambil mengobrol. Ada seorang yang nampak masih muda dari belakang sedang mengobrol dengan dosenku. Nampaknya seniorku. Tak aku pedulikan. Aku berusaha menata diriku sebelum menemui dosenku tercinta yang baik hati, ramah namun senyuman dan kata-katanya cukup untuk meruntuhkan mental para mahasiswa bimbingannya. Salah satunya aku.
     Dan benar, itu memang seniorku. Aku akui aku sungguh mengaggumi permainan pianonya. Dan aku pernah menangis tak bisa berhenti mendengarnya memainkan piano. Tapi, apa yang dilakukannya disini. Dia kan seharusnya sudah berada disuatu tempat dengan pianonya dan sejuta bunga dan sanjungan atas permainan dan pertunjukannya tapi, mengapa dia disini? Dan malah mengobrol dengan pak tua ini. Aku sedikit khawatir. Aku menoleh pada Dante. Dia juga nampak bingung, sama sepertiku. Aku menyenggol Dante, isyarat bertanya. Dia hanya mengangangkat pundaknya, tanda tak tahu.
“ya... selamat siang Reva, Dante. Tak perlu aku perkenalkan, dia Romero, kakak kelas kalian yang sangat luar biasa. “ kata dosenku tanpa basa-basi, memang sifatnya. Dan tak berlebihan sih, menyanjung Kak Mero seperti itu, itu hampir sepenuhnya benar, tapi itu  tatap saja mengganggu bagiku yang juga seorang pianis. Tapi aku masih bingung mengapa dia disini. Hal itu tak memberiku petunjuk.
“perlu kalian tahu. Romero adalah asistenku sekarang.” Aku cukup terkejut mendengar itu. Dan perasaanku mulai tak karuan. Aku memegang erat jemari Dante. Dan Dante cukup memahami maksudku dan, beusaha menenangkanku dengan memberi pegangan yang cukup menenangkan.
“dan karena aku harus melakukan lawatan, dan pergi meninggalkan kalian sementara waktu, untuk menggantikanku sementara ini, dia yang akan melatih dan membimbingmu untuk menyelesaikan resitalmu musim ini, dengan kolaborasi gitarmu Dante. Aku rasa pertunjukan kalian akan sangatlah mengesankan.” Kata dosenku sambil mencurahkan sedikit senyuman.
     Perasaanku tak karuan membayangkan apa yang akan terjadi kedepan ini. Mengingat apa yang pernah terjadi diantara kami bertiga, aku, Dante dan kak Romero. Ada sesuatu diantara kami di musim lalu. Mengingat konflik yang terjadi antara Dante dan kak Romero karenaku. Tapi, nampaknya kakhawatiranku juga dirasakan oleh Dante. Namun, dia nampak mampu menanganani kepanikannya tak sepertiku.
“mohon bimbingan dan bantuannya” kata Dante sambil menarik tubuhku dan membungkuk sebagai tanda hormat junior dan senior pada umumnya. Aku yang gugup terpaku mengikuti yang dilakukan Dante.
     Musim lalu, cukup muram bagi kami bertiga. Saat kak Romero tiba-tiba menyatakan cintanya padaku. Namun, aku tak memahami maksudnya, karena kak Romero meyatakannya dengan nyanyian. Sontak aku terhanyut, dan seperti biasa, karena terlalu hanyut aku menangis. Dan kak Romero salah mengartikan maksud dari tangisanku. Dikiranya aku menerima perasaannya. Dan saat itu, tiba-tiba dia memintaku untuk menjadi kakasihnya. Aku yang terlalu bingung dan terlalu banyak menangis tak bisa menjawabnya.
     Dante yang berada disampingku saat itu, seperti biasa. Menjelaskan bahwa aku tak ada perasaan pada kak Romero. Dan hal itu memang benar. Aku memang taka ada perasaan pada Kak Romero. Tapi kak Romero tak mampu menerima perkataan Dante dan malah menonjok Dante, dan menganggap Dante kurang ajar dan cemburu padanya karena menyukaiku. Dikiranya Dante tak merelakan aku untuk berpacaran dengannya. Karena Dante dikiranya menyukaiku juga. Meskipun kenyataannya tidak begitu. Jadilah mereka bertengkar siang itu di ruang latihan  karena aku yang hanya bisa menangis saja.
     Siang itu, cukup meneganggangkan seingatku, kami bertiga di bawa keruangan yang cukup tertutup dibelakang ruang latian. Aku tak ingat ruangan apa itu. Disana kami bertiga disuruh untuk menyelesaikan masalah kami. Aku ingat sekali hari itu menjadi hari yang begitu lama karena mereka menunggu jawabanku tentang apa yang tengah terjadi. Tapi, menjadi begitu lama karena harus menungguku berhenti menangis. Seperti biasa, begitu lama, seperti siang ini. Rasanya siang ini aku ingin menangis lagi mengingat kejadian hari itu. Dan, nampaknya Dante tahu. Dia mencoba menenangkanku, membuatku mampu berdiri menghadapi dosen dan seniorku ini siang ini.
“Reva, katakan apa yang ingin kamu katakan jangan menangis saja. Jelaskan semua yang terjadi.” Pinta Kak Romero padaku. Dia mengucapkannya berulang-ulang. Sambil memandang penuh kebencian ke arah Dante. Hal itu membuatku takut mereka akan bertengkar lagi. Dan Dante yang tak suka bertengkar pasti hanya akan menghindari pukulan yang diberikan kak Romero jika ia memukul dan tak akan memukul balas. Sejauh yang aku tahu, Dante hanya pernah memukul seorang lelaki yang tak dikenal dipantai pada semester awal kami bertemu dulu. Itupun setelah aku yang terkena pukul karena berusaha menjauhkan lelaki itu dari Dante. Melihat aku jatuh tersungkur barulah Dante mau memukul balas lelaki itu. Kak Romero yang tak memahami aku dan Dante yang terus saja diam, dia sedikit geram dan nampak begitu marah. Dia tak sabar ingin mendengar aku meluruskan masalah ini.
     Dante hanya terdiam. Dia melap pipiku dengan jemari dan tissue seperti biasa. Dia paham aku tak akan bisa bicara samapai bisa menahan diriku untuk tak menangis. Jadilah dia hanya menenangkanku dengan menghapus air mataku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kupandangi Dante. Bibirnya berdarah bekas tonjokan. Tapi dia tak menghiraukannya. Dan malah membersihkan air mataku. Setelah sekian lama dia terdiam dan memandangiku, dia mengucapakan sesuatu “sudah?” tanyanya padaku yang mulai tenang. Aku hanya mengangguk. Dan mulai membuka mulut.
“ma, maaf kak Romero...” uacapku terbata sambil meminta ijin bicara dengan anggukan pada dosen yang mendampingi kami saat itu. Dosenku hanya mengangguk memberi isyarat untuk meberiku kesempatan untuk bicara.
“yang dikatakan Dante pada kakak mengenai aku tadi, adalah benar. Aku memang tak ada perasaan pada kakak. Dan masalah aku menagis saat kakak menyanyikan lagu tadi untukku, yang dikatakan Dante bahwa itu hanya karena aku ternhanyut dalam lagu itu dan tak ada persaan padamu adalah benar.” Mendengar kalimatku tadi, wajah kak Romero memerah nampak begitu malu. Dia tak lagi nampak marah. Dia malah nampak bagitu malu. Tak heran jika dia malu menurutku, seorang Romero yang saat itu begitu dipuja banyak gadis di kampus ditolak saat menyatakan cinta pada juniornya, yang tak nampak cantik, dan malah bantet dan bentuknya tak karuan-aku-. Ditambah lagi, dia mengotori tangan emasnya yang ia gunakan untuk memainkan piano yang menaikkan citranya untuk menonjok seseorang, dia begitu malu saat itu. Dan perlu tahu, berita semacam ini akan mudah tersebar dan menjatuhkan citra kak Romero.
“benarkah? Jika begitu aku mohon maaf. Terutama padamu Dante.” Ucap kak Romero. Dante hanya mengangguk. Dan dosenku meluruskan semua masalahnya. Kami bersalaman dan bergegas keluar dari ruangan itu. Dante tak mengeluarkan sepatah katapun. Setelah dari ruangan itu aku mengajak Dante duduk di bawah sebuah pohon. Di taman, tempat Dante menungguku siang ini. Aku membersihkan lukanya. Dan Dante benar-benar tak mengatakan apapun. Hal itu membuatku khawatir. Aku juga tak berani memulai pembicaraan saat itu, jadilah aku tetap diam.
“kau tak apa?” tanya Dante sambil memandangku. Aku terkejut mendengarnya mulai bicara. Tak mau merusak kalimatnya, aku hanya menggeleng.
“sungguh?” tanyanya lagi meyakinkan dirinya dan aku. “ sungguh.” Kataku mencoba memperjelas.
“maafkan aku,” jawabnya lagi. Aku cukup bingung, mendengar Dante meminta maaf. Sejauh yang aku tahu, seharusnya yang minta maaf adalah aku. Karena aku, dia jadi sasaran tonjokan kak Romero. Tapi, kini dia yang malah minta maaf, jadilah aku makin bingung.
“maafkan aku, karena aku lancang menjawab pertanyaan kan Romero padamu tadi. Aku tak tahan melihatmu jadi perhatian orang banyak seperti itu saat kamu mengis seperti tadi. Jadi aku berusaha untuk menghindarkanmu dari perhatian orang, tapi kamu malah jadi sasaran perhatian orang aku sungguh minta maaf padamu.” Jelasnya padaku
“ha? Seharusnya aku yang minta maaf, karena kebiasaan burukku yang selalu saja menangis dan tak bisa menahan tangisanku membuatmu jadi sasaran tonjokan. Aku minta maaf dan juga berterima kasih karena membantuku untuk mengucapkan maksudku, karena jujur seandainya aku tak menagis sekalipun, aku tahu aku tak akan mampu menjawab permintaan kak Romero.” Jelasku lagi
“kamu tak apa? Lukamu?” tanyaku
“tak apa. Sekarang... aku hanya...”
“kenapa? Kamu merasa sakit? Dimana? Kita perlu ke klinik? Ayo aku antar?” tanya ku panik.
“tidak, aku tak perlu ke klinik aku hanya...” dia tak menyelesaikan kalimatnya, Dante hanya memegangi perutnya.
“kau lapar?” tanyaku melihatnya memegangi perutnya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. “ Dasar kau ini!” menyeru padanaya. Akhirnya kami berjalan ke kantin berdua sambil  bercanda dan berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi.
     Keesokannya, aku berjanji menemui Dante di kantin untuk mentraktirnya lagi hari itu setelah kelasku usai. Selama berjalan menuju kantin aku dipandangi begitu banyak orang. Banyak yang sudah mendengar berita kejadian kemarin itu. Berita memang cepat menyebar. Banyak yang memandangku sinis. Begitu membenciku. Aku dicap orang yang sok sejak hari itu, karena aku menolak seorang pangeran pianis di kampus. Gadis-gadis di kampus begitu tak menyukaiku sejak itu.
     Kak Romero juga menghindariku terus. Dan untungnya aku punya Dante yang selalu menemaniku karena tak ada seorangpun yang mau berteman padaku, hanya beberapa gadis yang tak peduli pada popularitas yang mau berteman denganku. Itulah sebabya Dante adalah segalanya bagiku. Karena meski kami berbeda divisi kelas, dia selalu berusaha menemani dan membantuku.
     Aku masih melamun mengingat masa lalu itu, dan begitu takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Dengan segala kemungkinan karena masa lalul ini. Aku bertanya-tanya mengapa seniorku ini mau meneriam untuk jadi pembimbingku. Mengingat apa yang pernah aku lakukan padanya.
“iya, aku akan membimbing kalian di sisa semester ini, selama prof. Froza pergi. Aku harap kalian dapat menerima bimbinganku dengan baik. Aku juga mohon bantuan kalian karena ini tugas pertamaku sebagai assisten dari prof. Froza.” Kata kak Romero sambil mempersilahkan kami menegakkan punggung kami. Dia tersenyum padaku dan Dante. Tapi, senyuman itu mebuatku semakin merasa takut. Dan aku hanya berharap dia benar-benar akan membimbing kami dengan baik. Juga mampu melupakan masa lalu yang cukup membuatnya malu saat itu, aku harap dia  membangun atmosfer yang baru sebagai senior dan junior yang baik saat membimbing kami nanti dan tak mengingat masalah lalu itu sedikitpun.
     Dante menyenggolku, menyadarkanku dari keterpakuanku akan keadaan yang tengah terjadi dan mengisyaratkanku untuk mengatakan sesuatu agar tak tak terjadi suasana yang kaku. Tapi, aku begitu bingung mau mengatakan apa.
“ baiklah, aku ada urusan lain. Kalian mulai saja latihan hari ini. Aku tinggal. Silahkan Romero.” Ucap dosenku memecah ketegangan.
“terima kasih prof, hati-hati dijalan. Sampai jumpa lagi” ucap kak Romero menghantarkan kepergian dosenku kedepan pintu.
“apa yang harus aku lakukan? Mengapa harus begini?” tanyaku panik pada Dante.
“sudah, santai saja. Hadapi saja. Cuma latihan dan bimbingannya yang kita butuhkan. Aku tak peduli dengan apa yang pernah terjadi aku juga sudah berusaha melupakannya. SMILE!!!” Dante mencoba menghiburku.
“aaaahhh, lepaskan! Iya-iya aku tahu...” kalimatku berhenti melihat kak Romero masuk ruangan.
“ayo,, kita mulai latihan hari ini. Dan aku harap kamu bisa segera fokus dan tak terlalu terhanyut kedalam cerita lagunya tapi bisa terhanyut dan masuk dalam musiknya ya Reva”  ucap kak Romero memulai latihan hari itu.
“iya kak,” jawabku.
“lagu apa yang akan kalian bawakan? Lagumukan Dante?” tanya kak Romero
“iya... ini lagunya. Dan ini demonya.” Jawab Dante berusaha bersikap senormal mungkin sambil mengabaikan apa yang pernah terjadi.
“kalian tak perlu kaku seperti itu. Kita lupakan saja yang pernah terjadi dan membuka lembaran baru.” Kata kak Romero sambil membaca sheet yang diberikan Dante. Kalimat itu cukup membuatku kaget. Dan sedikit melegakan karena salah satu ketakutanku ternyata cukup diterima dan diapahami dengan baik. Jadi aku tak perlu menahannya.
“benarkan Dante, dan, aku rasa aku tak perlu mendengar demo lagumu. Kalian bisa mulai memainkannya sekarang.” Siang itu, meski sedikit mengagetkan dan aku cukup terkejut. Semua berjalan cukup lancar. Latihannya juga. Kami sedikit gugup memang, tapi semua bisa teratasi. Dan beruntungnya lagi. Siang itu juga, lagu kami diterima oleh dosen Dante. Dan jadilah kami membawakan lagu itu untuk resital kami musim ini. Dibawah bimbingan kakak senior yang sempat membenci kami. Siang yang tak terduga. Dan hal itu membuatku begitu lapar.

Minggu, 12 Agustus 2012

August Diary

tiap tanggal 13, hal seperti ini sanggat sering terjadi dan dapat dikatakan selalu terjadi. kalau kata REMAJA sekarang 'lagi galau'. itu sedang saya rasakan belakangan ini. dan, puncaknya hari ini. sedikit curhat aja hari ini ya. tapi, sayangnya saya gak tau harus mulai darimana. jadi lewat puisi-puisi yang beberapa hari sempat tercipta aja ya... yang pasti kegalauan ini datang karena liburan datang, tapi gak bisa liburan dengan tenang dan bahagia gara-gara tugas yang numpuk. semoga guru-guru yang niatnya baik nyuruh kita belajar tapi jadi  menyiksa kita amal ibadahnya diterima dan dimaafkan segala kesalahannya ya...

inilah puisinya.... puisi ini tercipta karena saya sedang ingat dengan satu masalah di masa lalu dengan orang terdekat saya yang dengan teganya membohongi saya dan mengatakan semua adalah benar meski dia tengah menipu saya...


Panggung Sandiwara

Tawa terbahak, senyum bermekaran
Menari-nari riang, menebar kebahagiaan
Mendendangkan keindahan kehidupan
Mimpi-mimpi yang menjadi kenyataan
Hingga sinar meredup, tirai tertutup
Pertunjukan usai, dan semua kembali
                Menuruni tangga dengan perlahan,
                Seakan terjun kedalam lembah yang jauh dari pandangan,
                Seakan kembali pada kematian, kegelapan,
                Terengah napasku, letih merasuk tak tertahan,
                Semua tinggal ketakutan
                Akan hadirnya kenyataan
Memang,
Kenyataan yang ada, aku tak hanya menuruni tangga,
Aku jatuh menghantam dasar neraka,
Bukan putri sejuta kebahagiaan,
Tapi budak kepalsuan nirwana,
Karena semua hanya sandiwara belaka...
Kebohongan.

@_@ semoga kesadaran akan kejujuran bisa terbangun ya...
ada satu lagi ya...

Topeng

Kala hari merangkak menjauh,
Kutatap binar nanar matahari,
Terbang jiwa ke angan tersuguh,
Meratapi seraya menapaki hari,
                Kucoba tersenyum mekar,
                Menjadi pribadi yang tegar
                Mampu bertahan sekuat karang,
                Meski ombak dahsyat menerjang
Kala titik-titik indah langit bersinar,
Wijaya kusuma menyapa dengan senyum mekar,
Aku akhirnya terjatuh, tak mampu bertahan
Menutupi semua dengan senyum kepalsuan
                Aku berlutut, mengeram kesakitan        
                Air mata tak terbendung membasahi pipi
                Inilah aku yang sesungguhnya,
                Tanpa topeng kepalsuan...

saya kira sekarang terlalu banyak orang yang merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan saat ini. yang harus bertahan menerima perlakuan tak sewajarnya dari orang terdekat sekalipun yang seharusnya melindungi kita.

               
      


Ramadhan dan Islam


Ramadhan dan Islam

            Di saat bulan Ramadhan, bulan penuh berkah tiba. Semua orang berbondong-bondong untuk meningkatkan keimanan, juga ketakwaan. Semua menjadi lebih giat beribadah, bearamal, mengaji dan melakukan hal-hal baik lainnya. Itu juga yang banyak dilakukan para remaja pada umumnya. Kegiatan di sekolah di atur sedemikian rupa oleh pihak sekolah untuk memperkuat keimanan dan menanamkan kaidah –kaidah agama bagi siswa-siswinya.
            Tak hanya sekolah-sekolah, perkantoran-perkantoran ikut serta memeriahkan datangnya bulan ramadhan dengan memasang ebrbagai pernik untuk memperindah kantor, memasangkan ucapan-ucapan dan melakukan berbagai kegiatan amal. Dan tentunya yang sangat ditunggu-tunggu para pekerja, yaitu THR di akhir bulan Ramadhan. Bagi yang bujangan bisa digunakan untuk mempersolek diri. Bagi yang berkeluarga saatnya untuk membahagiakan anak istri maupun suami.
            Itu semua adalah segala kenikmatan yang diberikan Allah pada yang menjalankan ibadah puasa. Islam memang sebuah agama yang sangatlah universal dan mengerti perbedaan diatara umat pengikutnya yang bukan 1 atau 2 golongan saja, melainkan terdiri dari berbagai generasi, suku, ras, warna kulit, bahasa dan berbagai perbedaan lainnya. Hal itu dapat diatasi dnegan baik dalam Islam. Islam selalu menganggap semua umatnya sama. Terkecuali keimanan dan amalannya tentunya.
            Dewasa ini, Islam tengah mengalami kemjuannya yang cukup pesat. Banyak negara-negara non islam, kini mampu menerima islam sedikit demi sedikit, hingga muslim dapat leluasa beribadah di Negara yang penduduk Islamnya merupakan kalangan minoritas. Hal ini memang suatu yang baik dari islam sebagai agama universal yang mampu menrima segala perbedaan umatnya dengan baik.
            Hal utama yang mampu membuat islam berkembang saat ini adalah tentang penyebaran  dan pengenalan tentang Islam yang sudah berkembang dengan baik. Kini islam mampu menarik perhatian banyak kalangan yang mencari jati dirinya dan juga mencari kepuasan rohani untuk menenangkan diri dan mengali dirinya juga tujuan hidupnya. Islam kini dikemas dengan menyesuaikan berbagai pebedaan-perbedaan rakyat di seluruh Dunia untuk dapat menyusup dalam kehidupan masyarakat di dunia.
            Kini muslim dan muslimah dapat sedikit lebih luluasa dalam beribadah di negara manapun, meski tak semua mampu menerima. Akan tetapi kini islam dapat menunjukkan jati dirinya dan para muslim mulai di beri tempat di tengah-tengah masyarakat dunia. Tertutama di negara yang mayoritas umatnya non muslim.
            Contohnya di Negara-negara Eropa, kini wanita berkerudung bukan lagi suatu hal yang aneh. Dan sebagiam wanita berhijab tersebut mlah mendapat perlakuan khusus yang baik untuk menjalankan keislamannya. Dengan diberi tempat beribadah khusus, maupun waktu khusus untuk sjalat dan juga penghormatannya di bulan Ramadhan. Selain itu, negara adidaya macam Amerika pun juga mulai menerima Islam dengan baik. Presiden Obama juga sering mengadakan buka bersama antar umat islam maupun non islam untuk meperkuat tali persudaraan antar umat beragama.
            Hal itu mulai dapat dijadikan kiblat, bahwa islam dapat menyentuh umat di dunia dan mampu membawa kedamaian di Dunia. ALLAHUAKBAR!!!   

Senin, 06 Agustus 2012

Permasalahan Ekonomi Pada Sistem Perekonomian Indonesia


Dimata remaja kini, perekonomian Indonesia...
Ekonomi, memanglah salah satu aspek pada berdirinya suatu negara. Tak heran jika muncul satu sisi yang dikatakan sebagai masalah ekonomi, untuk itulah pelaku ekonomi memiliki sistem ekonomi yang digunakan dan dianut untuk dijalankan dalam perjalanan ekonomi.
Di Indonesia, sistem perekonomian berjalan dibawah pengawasan pemerintah dan pihak swasta sebagai pelaku peran perekonomian. Sistem yang dianut Indonesia umum disebut sebagai sistem perekonomian campuran, dan di Indonesia di sebut sebagai perekonomian demokrasi atau kerakyatan. Penggunaan sistem ini yang memiliki prinsip sama seperti sistem ekonomi campuran dimaksudkan untuk menutupi segala kekurangan satu sistem yang dianut dengan yang lainnya. 
Akan tetapi, dewasa ini memang jalannya sistem perekonomian di indonesia sudah tidak sejalan sesuai apa yang seharusnya terjadi. Hal ini disebabkan pemerintah sudah tak mampu untuk mengendalikan harga pasar yang meskipun bebas mengikuti pasar, akan tetapi pemerintah seharusnya memberikan batasan-batasan atau lebih tepatnya menjalankan aturan perkonomian yang sudah berlaku untuk mengendalikan harga, agar harga tetap dapat terkendali dan dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Pemerintah yang pada dasarnya memiliki wewenang untuk mengendalikan perputaran roda perekonomian demi berjalannya perekonomian negara sudah tak mampu melakukan tugasnya dengan maksimal, dan berkesan pemerintah kini hanya sebagai lembaga pajangan untuk kepentingan pengusaha swasta yang memberikan pengaruh pada harga-harga pasar di Indonesia. Pemerintah seperti boneka untuk jalannya perekonomian karena tak lagi menjadi pengatur roda perekonomian, dan malah menjadi lembaga yang diatur oleh harga pasar dan pengusaha swasta. Khususnya pengusaha asing. Hal ini dapat dikategorikan sebagai penjajahan secara ekonomi politis untuk memecah belah indonesia.
Selain itu, dengan melamahnya kemampuan pemerintah untuk mengendalikan roda perekonomian, semakin membuat masyarakat terjerumus dalam keadaan kritis. Kritis dalam sisi perekonomian dan secara kepercayaan pada kinerja pemerintah.  Rakyat, sebagai objek kerja pemerintah yang seharusnya menikmati hasil kerja pemerintah dari hasil pembayaran pajaknya, kini malah dirugikan dengan kinerja pemerintah yang terkesan asal-asalan menangani permasalahan ekonomi yang semakin membelit rakyat, dan menyusahkan rakyat. Hal ini semakin merugikan rakyat, terutama dari kalangan bawah untuk kelangsungan kehidupan mereka jika pemerintah tidak segera kembali mengkaji tugas mereka sebagai lembaga pemerintahan untuk jalannya perekonomian di Indonesia.
Hal yang seharusnya dikerjakan pemerintah adalah ;
1.      Segera menstabilkan harga
2.      Mengembalikan kepercayaan rakyat pada kinerja mereka
3.      Melakukan pembenahan sistem
4.      Tidak mengambil keuntungan atas masalah perekonomian sekarang untuk kebutuhan mereka sendiri
5.      Segera membawa kemakmuran bagi kesejahteraan rakyat di Indonesia untuk meberantas kemiskinan.
Hal-hal tersebutlah yang dibutuhkan rakyat dari pemerintah bukannya janji dan rapat yang tak berujung yang dilakukan pemerintah seperti sekarang ini.
Untuk itu menghimbau para pemuda untuk berpikir bagi perubahan pada orde kita agar menjadi generasi yang lebih baik dan memperbaiki peradaban kita!!!
SEMANGAT REMAJA!!!